Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Manuskrip Merapi-Merbabu di Magelang Simpan Misteri Literasi Kuno

N
Penulis: Naila Nihayah❯
ARSIP SEJARAH: Naskah yang tertulis di daun lontar ini belum bisa dibaca. (Dok: Joko untuk Radar Jogja)
ARSIP SEJARAH: Naskah yang tertulis di daun lontar ini belum bisa dibaca. (Dok: Joko untuk Radar Jogja)

Advertisement

 MUNGKID - Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Kedakan, Kenalan, Pakis, Kabupaten Magelang tersimpan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Terdapat satu bendel naskah daun lontar yang hingga kini belum bisa dibaca, bahkan oleh para peneliti sekalipun. 

Berdasarkan penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), total ada lebih dari 1.400 manuskrip serupa yang diyakini berasal dari tempat itu justru tersebar dan sebagian tersimpan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Manuskrip itu menandakan jejak peradaban literasi kuno di kawasan Merapi-Merbabu.

Satu di antaranya berada di Dusun Kedakan, Kenalan, Pakis yang disimpan dalam peti kecil bersama pusaka wayang. Lontar itu hanya terdiri dari satu bendel berisi sekitar 35 lembar. Namun hingga kini, belum ada yang mampu membaca secara pasti isi tulisan di dalamnya.

Advertisement

Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso mengutarakan, upaya pembacaan sudah beberapa kali dilakukan, termasuk oleh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. Namun hasilnya tidak konsisten.

"Dulu pernah ada penelitian dari mahasiswa UI, UGM, sampai IPB. Tapi setiap tahun dibaca, hasilnya berbeda-beda. Seolah tulisannya berubah," ujar dia di kantornya, Selasa (21/7).

Advertisement

Dia menyebut, tulisan pada lontar itu bukan berupa tinta, melainkan goresan seperti ukiran pada daun yang tipis. Anehnya, meski diukir di kedua sisi, tulisan tersebut tidak tembus. 

Secara kasat mata, kata Joko, bentuk aksaranya disebut menyerupai tulisan Jawa kuno bernuansa Hindu-Buddha. Tim dari BRIN sempat membandingkan lontar Kedakan dengan koleksi di Perpusnas.

Hasilnya, ditemukan kemiripan pola tulisan. Dari situlah muncul dugaan kuat bahwa naskah di Kedakan merupakan bagian dari jaringan manuskrip besar Merapi-Merbabu.

"Dari penelitian, diperkirakan ada sekitar 1.486 naskah. Dan semuanya mengarah berasal dari Kedakan, ditandai dengan nama Ki Hajar Doko," kata Joko.

Dia menjelaskan, bama Ki Hajar Doko disebut berulang dalam berbagai manuskrip sebagai penanda atau 'tanda tangan' penulis. Sosok ini diyakini sebagai tokoh di padepokan Kedakan, yang diduga hidup sekitar abad ke-14 atau era Majapahit.

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kena Tol Jogja-Bawen Pematang Sawah Dibayar Rp 15 Juta, Akan Digunakan untuk Makan   

Kena Tol Jogja-Bawen Pematang Sawah Dibayar Rp 15 Juta, Akan Digunakan untuk Makan  

Kena Tol Jogja-Bawen Pematang Sawah Dibayar Rp 15 Juta, Akan Digunakan untuk Makan  

Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen Tembus 76,64 Persen, Sisakan PR Seksi 5

Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen Tembus 76,64 Persen, Sisakan PR Seksi 5

Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen Tembus 76,64 Persen, Sisakan PR Seksi 5

Tak Ada Kejadian Karhutla,  Pengelola Wisata Minta Gunung Telomoyo Dibuka Lagi

Tak Ada Kejadian Karhutla,  Pengelola Wisata Minta Gunung Telomoyo Dibuka Lagi

Tak Ada Kejadian Karhutla,  Pengelola Wisata Minta Gunung Telomoyo Dibuka Lagi

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer