GUNUNGKIDUL - SD Negeri (SDN) Wonosari 1 menyediakan 23 kegiatan ekstrakurikuler untuk memfasilitasi seluruh potensi siswa, mulai dari seni hingga olahraga.
Program ini menjadi strategi sekolah dalam mengembangkan minat bakat sekaligus mendongkrak prestasi di tingkat kabupaten hingga nasional.
Kepala SDN Wonosari 1 Jokowidiyanto mengatakan, banyaknya pilihan kegiatan menjadi ciri keunggulan sekolah yang dipimpinnya.
Selain ekstrakurikuler wajib seperti Pramuka, setiap siswa diberi kesempatan memilih dua hingga tiga kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa, Rabu, dan Kamis.
“Kami ada 23 ekstrakurikuler. Anak-anak bebas memilih sesuai minatnya. Ini yang menjadi keunggulan sekolah kami,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2028) sore.
Dari puluhan kegiatan tersebut, ada beberapa yang menjadi unggulan, yakni marching band dan baris-berbaris.
Untuk marching band, tim sekolah hampir selalu meraih juara pertama dalam kejuaraan tingkat kabupaten.
Bahkan, ia menyebut sekolah sudah beberapa menyabet juara tingkat nasional.
Hal serupa diterapkan pada tim baris-berbaris yang menjalani latihan intensif hingga satu bulan penuh sebelum kompetisi.
“Tim kami selalu juara satu karena memang kami siapkan secara maksimal. Latihan bisa satu pekan penuh setiap sore saat menjelang lomba,” jelasnya.
Tak hanya itu, SDN Wonosari 1 juga menjadi sekolah rujukan gugus depan Pramuka Siaga di Kabupaten Gunungkidul.
Sejak November 2022, pembinaan Pramuka di sekolah tersebut diarahkan menuju Pramuka Siaga Garuda dan Pramuka Teladan.
“Kami latihan dengan baik, progresnya menuju Pramuka istimewa,” katanya.
Komitmen terhadap kenyamanan dan perlindungan anak juga mengantarkan sekolah ini meraih predikat Sekolah Rujukan Ramah Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) sejak November 2021.
Dengan jumlah sekitar 500 siswa dan keterbatasan ruang, potensi gesekan antarsiswa tetap ada.
Namun, kata dia, sekolah memiliki tim ramah anak untuk memastikan setiap persoalan diselesaikan tanpa menimbulkan trauma.
“Kami pastikan anak nyaman dan tidak ada kekerasan. Kalau ada masalah, diselesaikan dengan pendekatan yang baik,” tegasnya.
Lingkungan sekolah pun ditata mendukung kenyamanan belajar. Terdapat kolam, kebun buah, serta dinding sekolah yang dicat berwarna-warni.
Menurut Jokowidiyanto, banyaknya ekstrakurikuler juga menjadi sarana menyalurkan energi dan kreativitas siswa di luar pembelajaran kelas.
“Tidak ada anak yang tidak terfasilitasi. Mau pantomim, basket, bola, semua ada. Kami ingin melayani anak sesuai keinginannya,” ujarnya.
Ia menekankan, kecerdasan siswa tidak tunggal. Ada yang unggul secara akademik, ada pula yang menonjol di bidang olahraga atau seni.
Sekolah berupaya memastikan tidak ada stigma siswa bodoh. “Semua siswa cerdas jika sekolah mampu menemukan daya tarik dan potensinya,” imbuhnya.
Ia mencontohkan seorang siswa yang sempat dicap nakal dan sulit diatur. Setelah mengikuti ekstrakurikuler pantomim, pelatih justru menilai anak tersebut paling potensial.
Dari ratusan siswa, hanya 26 yang terseleksi untuk tim lomba pantomim, dan siswa tersebut masuk di antaranya.
“Di kelas terlihat sangat aktif, tapi ternyata potensinya di seni pantomim. Itu yang kami kembangkan,” katanya.
Prestasi siswa pun rutin diapresiasi. Hampir setiap upacara Senin, sekolah menyerahkan piala atau penghargaan kepada siswa berprestasi dari berbagai lomba.
Deretan trofi yang memenuhi lemari kaca di ruang sekolah menjadi bukti bahwa ruang-ruang pengembangan minat bakat yang dibuka lebar mampu melahirkan prestasi sekaligus membangun rasa percaya diri siswa.
“Nyaris setiap Senin ada penyerahan hadiah. Kami punya empat lemari besar dan sudah penuh piala,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita