Minggu, 19 Aug 2018
radarjogja
icon featured
Budaya

Ketika Seniman Indonesia-Brazil Bertemu di Biennale Jogja XIV

Selangkah Lebih Jauh Ikuti Garis Khatulistiwa

Jumat, 03 Nov 2017 14:39 | editor : Jihad Rokhadi

KONTEMPORER: Biennale Jogja XIV melanjutkan tradisi seri Biennale Equator dengan menggandeng seniman Brazil dalam gelaran dua tahunan. Pameran utama diadakan di Jogja National Museum (JNM).

KONTEMPORER: Biennale Jogja XIV melanjutkan tradisi seri Biennale Equator dengan menggandeng seniman Brazil dalam gelaran dua tahunan. Pameran utama diadakan di Jogja National Museum (JNM). (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Putaran ke-14 dari pameran dua tahunan yang telah berlangsung sejak 1988 kembali bergulir. Biennale Jogja XIV melanjutkan tradisi seri Biennale Equator sebelumnya. Kali ini selangkah lebih jauh mengikuti garis khatulistiwa dengan menggandeng Brazil sebagai negara mitra.

Sebanyak 39 karya seniman bertemu di pameran utama Biennale Jogja XIV. Karya-karya mereka mengisi ruang-ruang di tiga lantai Jogja National Museum (JNM).

Pertemuan antara 27 seniman Indonesia dengan 12 seniman Brazil ini berlangsung selama satu bulan lebih, yakni dari 2 November hingga 10 Desember 2017 mendatang.

Karya seniman Farid Stevy Asta asal Jogja menyambut pengunjung di sepanjang lorong lantai satu ruang pameran JNM. Karya berjudul Habis Gelap Terbitlah Curhat merupakan fenomena coret-coret teks di ruang publik yang ditampilkan Farid secara visual.

Teks simpang siur atau barangkali tidak saling terhubung dan bahkan oleh sebagian orang dianggap tidak bernilai, dirangkai dalam tatanan visual yang menghadirkan harmoni dan kekacauan dalam satu ruang yang sama.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan, seni kontemporer merupakan satu dari sekian banyak ragam ekonomi kreatif yang diharapkan bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Menurutnya, seni kontemporerlah yang bisa menjadi penjaga bagaimana ekonomi kreatif tumbuh dan berkembang.

”Seni kontemporer menjadi penanda, menjadi petunjuk bagi negara-negara di dunia untuk melihat sebuah negara sampai dimana kemajuan seni budayanya,” ujarnya saat pembukaan Biennale Jogja XIV kemarin (2/11).

Triawan mengungkapkan, dalam seni kontemporer, seniman muda bebas berekspresi, merespons apa yang terjadi secara sosial. Selain itu, juga sering memberikan jawaban dan solusi melalui karya-karyanya.

Dia mengapresiasi Biennale Jogja XIV terus begulir dengan menggandeng mitra seniman dari berbagai negara dalam seri Biennale Equator. Menurutnya, penyelenggaraan pameran seni ini menjadi salah satu barometer berkembangnya seni kontemporer di tanah air.

”Dalam ekspresi seni rupa itu ada kepedulian, tangisan, kegembiraan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Kurator Biennale Jogja XIV Pius Sigit Kuncoro menambahkan, tajuk STAGE OF HOPELESSNESS (dicoret ST dan LESSNESS/dibaca AGE OF HOPE) menjadi narasi besar yang memayungi rangkaian acara pendamping Pameran Utama, yakni Festival Equator, Parallel Event, dan Biennale Forum yang melibatkan setidaknya 300 seniman dalam 30 ruang seni.

Dirinya menjelaskan, pencoretan bagian ST dan LESSNESS pada penulisan tema adalah bentuk dari upaya untuk mengubah harapan yang kini semakin jauh dari kenyataan. ”Dari fase keterputusasaan menuju sebuah abad harapan,” ujarnya.

Salah satu seniman, Aditya Novali menampilkan karya bertajuk When I Google Ahok. Karyanya kali ini menggambarkan bagaimana realita zaman milenial di mana Google seakan menjadi penuntun hidup.

”Google sudah seperti Tuhan, di mana orang-orang mencari kebenaran dan pembenaran melaluinya yang dengan mudah dijangkau,” ujar seniman asal Solo ini. 

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia