BANTUL - Perbedaan penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan puasa Arafah masih menjadi dinamika yang dihadapi umat Islam hingga kini.
Padahal, fenomena alam yang menjadi dasar penentuan waktu ibadah yakni matahari, bulan, dan bumi bersifat sama di seluruh dunia.
Perbedaan lebih disebabkan oleh metode dan kriteria yang digunakan dalam menentukan awal bulan hijriah.
Dosen Prodi Ekonomi Syariah UMY Dr Maesyaroh, MA menjelaskan, pada Ramadan 1447 H perbedaan muncul antara Muhammadiyah dan pemerintah Indonesia bersama negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Jika sebelumnya perbedaan sering dipahami sebagai perbedaan antara rukyat dan hisab, kini persoalannya lebih pada pendekatan kriteria lokal dan global.
Menurutnya, sejak 1 Muharram 1446 H (26 Juni 2026), Muhammadiyah beralih dari hisab hakiki wujudul hilal (lokal) menuju Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang bersifat global.
KHGT merupakan hasil konferensi internasional di Istanbul tahun 2016 yang dihadiri para ahli falak dunia, termasuk dari Indonesia.
Kalender ini menetapkan prinsip “satu hari satu tanggal” untuk seluruh dunia, sehingga tidak ada lagi perbedaan antarnegara.
“KHGT berdiri di atas fondasi astronomi dan syariat yang kuat dengan lima pilar utama,” katanya.
Lima pilar itu meliputi keseragaman global, penggunaan hisab sebagai metode pasti dan prediktif, kesatuan matla’ (seluruh bumi satu wilayah), transfer imkan rukyat (wilayah yang memenuhi kriteria berlaku global), serta permulaan hari pukul 00.00 UTC di garis tanggal internasional.
Selain lima pilar, terdapat tiga syarat utama: telah terjadi ijtimak di suatu tempat, tidak menunda awal bulan jika telah memenuhi kriteria, dan tidak memaksa wilayah yang belum mengalami ijtimak.
Parameter awal bulan ditetapkan jika sebelum pukul 24.00 GMT tinggi hilal minimal 5° dan elongasi 8°.
Jika belum terpenuhi, digunakan koreksi parameter kriteria global dengan melihat kemungkinan rukyat di wilayah tertentu, termasuk Selandia Baru sebagai titik timur awal hari.
“Untuk Ramadan 1447 H, ijtimak akhir Syakban terjadi 17 Februari 2026 pukul 12:01 GMT. Meski tinggi hilal belum memenuhi 5°, koreksi parameter global menunjukkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026,” ujarnya.
Sementara itu, menurut kriteria pemerintah (MABIMS) yang berbasis lokal, karena hilal belum memenuhi syarat saat Magrib, Syakban digenapkan 30 hari dan awal Ramadan juga ditetapkan 18 Februari 2026, meski pendekatannya berbeda.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muhammad dalam riwayat Imam At-Tirmidzi, yang menyebutkan bahwa “puasa adalah hari ketika kalian berpuasa”. Kata “kalian” dalam hadis tersebut dipahami mencakup umat Islam secara luas.
KHGT dipandang selaras dengan semangat persatuan ini. Dengan kepastian hisab dan keseragaman global, KHGT diharapkan menjadi jembatan pemersatu umat, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kepentingan sosial dan administrasi di masa depan. (*/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita