RADAR JOGJA - Menjalani bulan Ramadan jauh di negeri orang bukan hal haru bagi Siti Aisyah. Sebab mahasiswa asing UIN Sunan Kalijaga asal Kota Pattani, Tailan Selatan ini sudah setahun terakhir tinggal di Jogja. Berburu takjil dan buka puasa bersama di Kampung Ramadan Jogokariyan menjadi satu agenda yang tidak akan dia lewatkan.
Bagi mahasiswi semester tiga jurusan hukum keluarga Islam ini, bulan Ramadan di Jogja maupun Pattani hampir tidak ada bedanya. Lantaran meski berbeda negara, kedua kota yang menjadi tempat tinggalnya itu sama-sama mengadopsi tradisi pasar Ramadan.
Bahkan untuk jenis makanan yang dijual di pasar Ramadan antara Jogja dengan Pattani juga tidak jauh berbeda. Meski begitu, Siti menganggap bulan Ramadan di perantauan tahun ini terasa lebih sepi. Sebab kini dia jauh dari keluarga dan banyak teman senegaranya yang memilih pulang kampung.
Namun perempuan 25 tahun ini tidak ingin terjebak dalam kesepian yang berlarut-larut. Di Jogja dia memiliki organisasi mahasiswa Tailan bernama Armawah. Berdomisili di Gowok, Caturtunggal, Depok, Sleman.
Lewat organisasi itu, Siti bersama dengan banyak mahasiswa asal negeri Gajah Putih lain mengobati rindu kampung halaman dengan berbagai kegiatan. Salah satu agenda utamanya memasak dan buka bersama (bukber). “Satu bulan Ramadan itu kami ada bukber bersama, sekali bersama masyarakat sekitar Gowok,” ujar Siti saat ditemui di International Office UIN Sunan Kalijaga Senin (23/2).
Selain kegiatan bersama organisasi, Siti bersama dengan teman senegaranya juga menggelar kegiatan sosial. Seperti bagi-bagi takjil kepada masyarakat dan salat Tarawih di masjid kampung.
Tak lupa, dia juga memiliki rencana berwisata religi di Jogjakarta. Dia ingin mengunjungi Kampung Ramadan Jogokariyan. Sebab di bulan Ramadan tahun lalu, tempat tersebut membuatnya terkesan.
Siti menyatakan, di Kampung Ramadan Jogokariyan dia bersama dengan teman-temannya bisa berburu berbagai sajian takjil. Sekaligus merasakan atmosfer buka bersama yang tumplek blek di pelataran masjid.
“Tahun lalu pergi ke Masjid Jogokariyan, sekarang mau coba buka bersama di sana lagi,” sebutnya antusias.
Berbagai kegiatan tersebut menurut Siti sudah mengobati kerinduannya. Merasa sudah memiliki rumah kedua di perantauan.
Siti juga berencana untuk merayakan Idul Fitri di Jogja. Kegiatan utamanya adalah makan besar. Lalu mendekati hari besar umat muslim itu dia bersama dengan teman senegaranya juga akan berburu baju baru. Sama seperti budaya masyarakat Indonesia menjelang lebaran.
“Hari Lebaran itu kami ada jamuan sesama teman-teman. Setelah salat Idul Fitri kami makan-makan, terus pergi foto-foto pakai baju baru,” bebernya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita