BANTUL - Ada yang khas di Masjid Sabiilurrosyaad setiap Ramadan tiba. Masjid yang berlokasi di Padukuhan Kauman, Wijirejo, Pandak, ini tidak pernah menunya dengan nasi saat berbuka puasa. Melainkan selalu bubur yang disajikan sepanjang Ramadan untuk para jemaahnya.
Seorang warga Futikah menyampaikan, menu buka puasa bubur selalu dipadukan dengan sayur lodeh, lauk telur, dan krecek. Sepanjang Ramadan selalu disediakan 100 porsi bubur Sabtu-Kamis. "Khusus Jumat bisa sampai 500 porsi, karena yang datang banyak,” katanya Minggu (16/3).
100 porsi bubur itu dapat menghabiskan delapan kelapa dengan sekitar delapan orang yang memasak. Sedangkan 500 porsi bubur bisa menghabiskan 25 buah kelapa dengan sekitar 50 orang yang memasak.
Futikah mengatakan, masyarakat dari sejumlah daerah biasanya datang untuk mengikuti buka bersama. "Pernah ada dari Solo, bahkan Jakarta rela datang,” tambahnya.
Ketua Takmir Masjid Sabiilurrosyaad Hariyadi menambahkan, takjil dengan bubur sayur lodeh merupakan adat yang sudah dilakoni secara turun temurun. Menurutnya, warga Kauman sangat mempercayai masjid itu merupakan peninggalan Panembahan Bodho atau Raden Trenggono dari abad ke-16.
Takjil dengan bubur, selain sebagai upaya melestarikan budaya juga sarat dengan pesan dan nilai. Bubur yang teksturnya lembut cocok untuk berbuka puasa karena tidak menimbulkan kontradiksi di perut.
"Makanya untuk menyampaikan agama Islam itu harus disampaikan dengan lemah lembut, sehingga mudah dipahami dan diamalkan,” ungkapnya.
Menurutnya, rutinitas takjilan di Masjid Sabiilurrosyaad selalu ada pengajian yang membeberkan nilai-nilai keislaman.
Hariyadi mengungkapkan, bubur sebagai menu takjilan sudah menjadi pokok, sehingga tidak bisa ditinggalkan. Oleh karenanya ketika tidak berbuka dengan bubur, merasa ada yang kurang.
Buka puasa dengan bubur di Masjid Sabiilurrosyaad tidak lagi sekadar membatalkan puasa. Tetapi memiliki nilai kebudayaan dan keyakinan yang dituturkan secara turun temurun di Padukuhan Kauman, Wijirejo.
"Budaya yang adiluhung sehingga layak dipertahankan dan diregenerasi. Mmasyarakat pun terus mendukung," tuturnya.
Untuk bahan pembuatan mayoritas swadaya dari masyarakat, tanpa perlu diminta.
Dari kalangan takmir tidak perlu mengeluarkan kas masjid dalam-dalam. Menurutnya, selalu ada kesadaran kolektif meskipun bubur dibuat sendiri di masjid. "Misalnya Pak Hasanudin sudah 15 tahun masak bubur di masjid," tandasnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo