Pesantren kilat di bulan Ramadan seakan menjadi budaya yang melekat di masa sekolah. Lantaran, hampir di semua sekolah negeri, pesantren kilat selalu dilakukan. Entah dilakukan pada sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah akhir.
Dimas Sulistiyoko, 37, menceritakan pengalamannya mengikuti pesantren kilat. Selama 12 tahun belajar di sekolah negeri, dirinya memiliki pengalaman pesantren kilat sejak SD hingga SMA. Kegiatan itu seakan menjadi rutinitasnya saat Ramadan.
"Kalau sekarang mungkin pesantren kilat tidak menginap. Kalau dulu pasti menginap," ucap Dimas, Jumat (7/3).
Dimas menyampaikan, hampir setiap pesantren kilat yang diikutinya harus membuat peserta menginap di sekolah. Tentunya menginap di sekolah bukanlah hal yang menyenangkan. Lantaran fasilitasnya tak layak untuk dihuni selama 24 jam.
Saat SMP, Dimas perlu tidur di atas meja yang telah ditata dan digabung. Lantaran lantai sekolah tak bisa digunakan untuk tidur. Lantai cenderung dingin saat malam, membuat kenyamanan tidur terganggu. "Selama pesantren kilat, kebanyakan kegiatan terfokus di musala atau masjid," ungkapnya.
Dimas menyampaikan, kebanyakan kegiatan pesantren bersifat penguatan iman dan pemahaman wawasan keislaman. Banyak kegiatan berupa pengajian dan pengajaran keagamaan selama pesantren.
Selain itu, ada momen yang tak terlupakan saat dirinya mengikuti pesantren kilat di SMP. Sekitar dini hari, dirinya dan teman-temanya dibangunkan secara tiba-tiba oleh senior dan guru. Mereka terbangun dalam kondisi mata yang telah ditutup dengan sebuah kain.
Setiap peserta akan diajak menyusuri beberapa lokasi di sekolah. Di situlah senior mereka melakukan kegiatan jalan kehidupan. Kegiatan itu mengajak peserta untuk bersyukur atas apa yang dimiliki dan atas karunia Tuhan.
"Jalan kehidupan, peserta saling bergandengan berjalan nanti akan banyak petuah dan motivasi kehidupan yang dibacakan sepanjang jalan," ungkapnya.
Setelah berjalan dalam kegelapan, seluruh peserta dikumpulkan dalam sebuah tempat. Mereka kemudian melaksanakan renungan malam. Saat itu, guru dan senior peserta akan memberikan motivasi. "Motivasinya sangat menggugah, bahkan membuat kami menangis," ungkapnya.
Selama motivasi itu, pemahaman keislaman dan realitas kehidupan disampaikan. Hal ini menyebabkan beberapa peserta tak kuat menahan air mata. Salah satu yang terkenang dalam diri Dimas, berupa motivasi terkait orang tua. Lantaran dirinya tiba-tiba teringat peran dan jasa orang tua kepadanya.
Setelah kegiatan renungan, peserta akan diajak makan sahur bersama-sama. Saat makan sahur, kebanyakan siswa akan menceritakan pengalaman selama jalan kehidupan dan renungan malam. Kebanyakan siswa merasa kegiatan itu menjadi kali pertama kehidupannya. "Itu menjadi kenangan, untuk cerita saat reuni," ungkapnya.
Mengikuti pesantren kilat Ramadan sangat mengenang baginya. Terkadang saat reuni, cerita pesantren kilat muncul kembali. Bahkan menjadi bahan candaan antarsesama angkatan. (gas/laz)
Editor : Heru Pratomo