Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perang Sarung Kini Identik Kriminalitas, Pengamat Sebut Perlu Kembalikan Marwah Sarung

AI

 


Advertisement

Ananta Hari Noorsasetya (Pengamat permainan tradisional)
Ananta Hari Noorsasetya (Pengamat permainan tradisional)

JOGJA - Permainan perang sarung dulunya cukup populer setiap memasuki bulan Ramadan. Namun kini maknanya sudah bergeser menjadi tindak kenakalan remaja. Pengamat permainan tradisional Ananta Hari Noorsasetya memandang perlunya penguatan kembali identitas budaya.


Ananta mengatakan, di era 90-an perang sarung merupakan permainan adu ketangkasan yang diminati setiap anak-anak sehabis salat Subuh. Tapi yang terjadi saat ini justru ada dekonstruksi sosial. Sehingga ketika mendengar perang sarung malah menjurus ke tindakan negatif.

Advertisement


Padahal pada akarnya sarung merupakan gaya busana yang identik dengan pakaian orang tua dan perlengkapan ibadah. Bahkan di sebagian budaya penggunaan sarung dianggap sebagai bentuk kehormatan karena menjadi simbol melawan penjajah.


"Tapi kini sarung dimodifikasi dengan batu, gir, hingga gesper, lalu dijadikan senjata tawuran antarkelompok,” ujar Ananta kepada Radar Jogja, Jumat (27/2).


Alumni ISI Jogjakarta yang kini memiliki bergelar doktor itu menilai, pergeseran makna perang sarung tidak lepas dari proses akulturasi yang masif. Serta konsumsi media sosial tanpa batas yang dilakukan oleh anak-anak muda.

Advertisement


Kendati begitu tetap ada positifnya. Misal muncul tren wastra Nusantara yang menggabungkan busana kain tradisional dengan modernisasi gaya fashion.


Menanggapi maraknya kriminalitas berkedok perang sarung, Ananta menekankan perlunya keterlibatan aktif para pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat. Dia menyarankan agar marwah sarung dikembalikan ke akarnya melalui pendekatan budaya yang relevan dengan zaman sekarang.


Bentuk upayanya pun bisa beragam. Misal dengan mengadakan kontes menggunakan sarung yang menarik atau menciptakan panggung sejarah. Kemudian Gen Z juga bisa diarahkan untuk membuat permainan menciptakan aktivitas kreatif untuk menggeser minat ke tindakan kriminalitas.


"Sarung adalah identitas kebudayaan kita yang mewujudkan kosmopolitan lokal. Tantangannya kini bagaimana mengembalikan sarung sebagai alat pemersatu dan simbol kebanggaan. Bukan lagi sebagai alat tawuran yang membahayakan fasilitas umum dan nyawa," tandas Ananta. (inu/laz)

Advertisement
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kepercayaan Diri Skuad PSS Meningkat, Kini Matangkan Persiapan Hadapi Persebaya di Surabaya

Kepercayaan Diri Skuad PSS Meningkat, Kini Matangkan Persiapan Hadapi Persebaya di Surabaya

Kemenangan telak 3-0 atas PSM Makassar pada pekan keempat Kompetisi Super League musim 2026/2027 menjadi penanda kebangkitan PSS Sleman.

Lestarikan Warisan Leluhur, SMAN 2 Bantul Usung Konsep Permainan Tradisional di GOR UNY 

Lestarikan Warisan Leluhur, SMAN 2 Bantul Usung Konsep Permainan Tradisional di GOR UNY 

Tim dance SMA Negeri 2 Bantul suguhkan penampilan unik pada gelaran kompetisi AQUA DBL Dance 2026 D. I Yogyaka. Berbeda dengan tren tarian modern pada umumnya, tim ini memilih untuk mengusung konsep tradisional.

Huistra Bangun DNA Baru PSS Sleman: Sepak Bola Menyerang dan Dominasi Bola Jadi Identitas Musim Depan

Huistra Bangun DNA Baru PSS Sleman: Sepak Bola Menyerang dan Dominasi Bola Jadi Identitas Musim Depan

PSS Sleman menyiapkan perubahan identitas permainan pada Super League 2026/2027. Di bawah arahan Pieter Huistra, Laskar Sembada membangun DNA permainan baru dengan mengedepankan sepak bola menyerang, agresif, dan ...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer