Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi di Purworejo, Bedug Terbesar di Dunia Ditabuh sebagai Tanda Buka Puasa

M
Penulis: Muhammad Hafied❯

Bedug Pendowo, salah satu bedug terbesar di dunia yang berada di Masjid Agung Purworejo.
Bedug Pendowo, salah satu bedug terbesar di dunia yang berada di Masjid Agung Purworejo.


Advertisement

 

Masjid Agung Purworejo masih melestarikan tradisi tabuh bedug setiap waktu berbuka puasa tiba. Selama Ramadan, bedug terbesar di dunia yang berada di area masjid itu selalu ditabuh sebagai tanda berbuka puasa. Tradisi tabuh bedug ini mengakar kuat sampai sekarang.

Petugas keamanan Masjid Agung Darul Mutaqqin Purworejo Toha Muhammad Suwito, 45, menjelaskan, sampai saat ini takmir masjid masih menjaga nilai tradisi tabuh bedug. 

Advertisement

Menurutnya, keberadaan bedug terbesar dengan bahan kayu jati itu bukan sekadar simbol kebesaran Islam, tetapi juga terdapat nilai pelestarian budaya. "Setiap mau berbuka puasa bedug itu dipukul," ungkapnya, Jumat (20/2).

Kepada Radar Jogja, Toha mengatakan, di Masjid Agung Purworejo bedug berukuran besar itu menjadi salah satu identitas. Namun demikian, bedug yang sudah berusia lebih dari satu abad itu hanya dipukul pada waktu dan hari tertentu. Seperti Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Bedug itu juga tidak boleh ditabuh sembarang orang. Hanya petugas khusus yang diperbolehkan menabuhnya. "Tanda salat Subuh, Dzuhur, Ashar dan Isya, itu pakai bedug ukuran kecil," katanya.

Advertisement

Dia menjelaskan, Masjid Agung Purworejo memiliki dua bedug. Masing-masing digunakan sesuai fungsi dan momentum tertentu. Selama Ramadan, lanjut Toha, di Masjid Agung Purworejo biasanya melaksanakan tradisi tabuh bedug setiap selepas salat Tarawih.

Namun bedug yang digunakan berukuran kecil. Bukan bedug besar yang selama ini menjadi perhatian masyarakat. "Habis Tarawih ada pukul bedug sambil salawatan. Biasanya anak-anak muda sini, bergantian," jelasnya.

Bedug terbesar yang berada di Masjid Agung Purworejo memiliki nama lain Bedug Pendowo. Disebut Pendowo karena diambil dari kayu jati bercabang lima dari Padukuhan Pendowo, Desa Bregolan, Kecamatan Purwodadi. Sebagian masyarakat juga menyebut sebagai Bedug Kyai Bagelen.

Bedug ini memiliki panjang 2,92 meter dengan diamater 1,94 meter. Bedug ini menyimpan banyak cerita sejarah karena dibuat sekitar tahun 1834. Keberadaan bedug ini juga memiliki kaitan erat dengan pembangunan Masjid Agung Purworejo. (fid/laz)

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Buka Tujuh Hari, Kunjungan Perpusda Purworejo Naik hingga 14 Ribu Orang

Buka Tujuh Hari, Kunjungan Perpusda Purworejo Naik hingga 14 Ribu Orang

Pelajar antusias berkunjung untuk menikmati berbagai layanan Perpusda Purworejo. (M Hafied/Radar Jogja)Buka Tujuh Hari, Kunjungan Perpusda Purworejo Naik hingga 14 Ribu Orang

Satu Liter Minyak Jelantah Bisa Cemari 1.000 Liter Air, Ini Solusi dari TP PKK Purworejo

Satu Liter Minyak Jelantah Bisa Cemari 1.000 Liter Air, Ini Solusi dari TP PKK Purworejo

Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi didampingi Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) meluncurkan gerakan pemanfaatan minya jelantah. (Dokumentasi Prokopim Purworejo)

BRI Kutoarjo Purworejo Pastikan Proses Lelang Agunan Dilaksanakan Sesuai Ketentuan Hukum dan Aturan

BRI Kutoarjo Purworejo Pastikan Proses Lelang Agunan Dilaksanakan Sesuai Ketentuan Hukum dan Aturan

Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kutoarjo, Purworejo melakukan klarifikasi terkait informasi yang beredar di sosial media mengenai gugatan warga atas lelang agunan. Branch Office Head BRI Kutoarjo Tri Suseno mengatakan, BRI

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer