Sabtu, 21 Jul 2018
radarjogja
icon featured
Jogja

Mirip Gejala Pasca Erupsi 1872

Rabu, 23 May 2018 11:36 | editor : Jihad Rokhadi

MASIH WASPADA: Gunung Merapi pasca kenaikan status dari Normal menjadi Waspada terlihat dari kawasan Bronggang, Cangkringan, Sleman, Selasa (22/5).

MASIH WASPADA: Gunung Merapi pasca kenaikan status dari Normal menjadi Waspada terlihat dari kawasan Bronggang, Cangkringan, Sleman, Selasa (22/5). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Pejabat Fungisonal Penyelidik Bumi, Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral Subandrio menyebut erupsi Merapi kali ini mirip dengan kejadian serupa pada 1872.  Saat itu terjadi erupsi hebat yang berlangsung selama 120 jam tanpa henti. Setelahnya muncul erupsi-erupsi freatik dalam beberapa tahun.

“Momen 2018 ini adalah fase freatiknya erupsi 2010 . Erupsi tanpa disertai material magma ini sejatinya lebih tepat disebut letusan minor,” jelas Subandrio di Pos Pemantauan Utama BPBD Sleman kemarin (22/5).

Subandrio mencatat, erupsi freatik terbesar terjadi pada November 2013.  Penyebabnya akumulasi gas yang berinteraksi dengan air permukaan. Dia menduga, letusan yang terjadi lantaran saluran lava dan gas tersumbat material pasca erupsi 2010.

Bekas kepala BPPTKG DIJ itu menjelaskan, material erupsi yang keluar saat ini bukan berasal dari aliran lava baru. Inilah yang menyebabkan penentuan status Merapi dari normal ke waspada memerlukan waktu. Selain itu, sampai saat ini belum ada deformasi (perubahan bentuk), yang menjadi ciri terjadinya erupsi. “Menjelang erupsi 2010 terjadi deformasi 40 cm/hari.  Kalau sekarang tidak ada perubahan signifikan atau bisa dibilang masih nol,” ujarnya.

Menyikapi peningkatan status Merapi saat ini, Subandrio mengimbau seluruh pihak untuk bertindak proporsional.  Anjuran pengosongan kawasan dalam radius 3 kilometer dari puncak didasarkan evaluasi jarak lontaran material erupsi saat terjauh.

Saat ini BPPTKG DIJ juga sedang melakukan analisis kandungan abu pasir erupsi freatik pada Senin dan Selasa (21-22 Mei) lalu. Analisis tersebut untuk mengetahui adanya kandungan material baru atau tidak.

Kepala Seksi Gunung Merapi Agus Budi Santoso mengatakan, hasil analisis tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengetahui kemungkinan adanya pergerakan magmatik.

Berdasarkan analisis laboratorium terhadap abu pasir vulkanik erupsi feratik 11 Mei lalu, menurut Agus, tidak ditemukan kandungan material baru. Kandungan material pada abu pasir tersebut sama dengan hasil erupsi 2010.

Gejala menuju erupsi magmatic juga belum terpantau peralatan yang dipasang di puncak Merapi. Pada 21 Mei lalu seismograf BPPTKG DIJ hanya mencatat terjadinya gempa guguran sebanyak dua kali, gempa multiphase enam kali, sekali gempa vulkanik dalam, sekali gempa tremor, dan 10 kali gempa tektonik. “Berdasarkan deformasi belum bisa disimpulkan mengarah ke magmatik,” jelasnya.

Begitu pula dengan suhu di puncak. Pada kondisi normal suhunya sekitar 40 derajat Celsius. Pasca erupsi freatik Selasa (22/5) dini hari suhu di puncak mencapai 75 derajat Celsius. Kendati demikian, hal tersebut belum bisa disimpulkan sebagai gejala magmatik. Sementara dari sisi biokimia, gas sulfur dioksida (SO2) yang keluar masih dalam level rendah. “Sekitar 90 ton perhari, saat erupsi freatik 11 Mei lalu bisa mencapai 300 ton,” ungkapnya.

Agus juga mengingatkan peningkatan status menjadi waspada bukan menunjukkan kondisi kritis di Merapi. Tapi karena ada peningkatan aktivitas di puncak.

(rj/dwi/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia