Jumat, 20 Jul 2018
radarjogja
icon featured
Jogja

13 Suspect Leptospirosis Meninggal

Jumat, 23 Mar 2018 13:36 | editor : Jihad Rokhadi

13 Suspect Leptospirosis Meninggal

Penyakit leptospirosis masih menjadi momok nomor wahid bagi petani. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ mencatat, hingga Maret ini sedikitnya 50 orang terjangkit penyakit yang disebabkan bakteri leptospira itu. Dari jumlah tersebut, 13 orang suspect leptospirosis dilaporkan meninggal. Tersebar di wilayah Bantul dengan enam kasus, Kota Jogja (2), Sleman (1), Kulonprogo (2) dan Gunungkidul (2).

Namun, berdasarkan hasil audit sementara hanya seorang yang dipastikan meninggal akibat leptospirosis. “Menimpa warga Dlingo. Sedangkan lima lainnya negatif,” ungkap Kasi Pengendali Penyakit Dinkes DIJ Setyarini Hestu Lestari Kamis (22/3).

Korban meninggal positif leptospirosis bisa saja terus bertambah. Mengingat sejauh ini audit kasus baru dilakukan di wilayah Bantul.

Leptospirosis lebih banyak menimpa petani. Itu lantaran bakteri leptospira biasanya ditularkan melalui urine tikus sawah yang mengidap penyakit mematikan tersebut. Kendati demikian, tempat kering yang menjadi sarang tikus pun berpotensi menimbulkan leptospirosis.

Bakteri menular ke manusia lewat air yang terkontaminasi bakteri leptospira dan masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Makanya, para petani diimbau selalu waspada setiap kali musim tanam atau panen. Karena masa itu rentan terjadi penularan leptospirosis. “Bakteri ini biasanya menyerang manusia usia produktif yang berhubungan dengan genangan air yang terkontaminasi kotoran tikus,” ungkapnya.

Rini, sapaannya, menegaskan, leptospirosis tidak boleh dipandang sebelah mata. Tahun lalu dari 296 kasus yang dilaporkan ke Dinkes DIJ tak kurang 38 suspect leptospirosis meninggal. Hasil audit menunjukkan, korban meninggal positif leptospiroris 20 orang. Kasus terbanyak di Gunungkidul.

Kepala Dinkes DIJ Pembayun Setyaningastutie menambahkan, setiap kasus dugaan leptospirosis selalu diaudit oleh ahli kesehatan. Baik di tingkat puskesmas maupun rumah sakit di setiap daerah.

“Untuk pencegahan, yang terpenting menjaga kesehatan individu dan lingkungan,” tuturnya. 

(rj/ong/ong/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia