RADAR JOGJA – Pemkab Purworejo tidak diam saja melihat potensi yang ada dan menjadi kekhasan daerah ini. Mereka menerbitkan sejumlah batasan agar kambing kaligesing tidak hilang dari Purworejo.

Kemungkinan hilang memang sangat tinggi, apalagi dengan nilai jual yang begitu menggiurkan. Ada aturan khusus yang diterbitkan untuk menghalagi atau membatasi kambing-kambing kelas unggul keluar dari daerah ini.

“Semaksimal mungkin kami berusaha melestarikan kambing kaligesing ini. Banyak cara yang kami lakukan dengan harapan varietas kambing itu akan tetap terjaga,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Purworejo Wasit Diono.

Wasit menyebut ada aturan yang melakukan pembatasan terhadap penjualan yang memicu keluarnya kambing kaligesing keluar wilayah. Hanya batasan itu tidak bisa dilakukan dengan tegas, karena pemerintah sendiri tidak mungkin melarang petani menjual ternaknya saat mereka sedang membutuhkan uang.

“Kami memang sebatas mengimbau. Kalau pun terpaksa menjual ya, di grade tertentu saja. Asal yang grade A dan B tidak keluar,”  tambah Wasit.

Tidak berhenti di situ, untuk pemotongan hewan juga diberikan imbauan. Di mana peternak diarahkan untuk menyembelih kambing pejantan saja. Sementara untuk kambing betina diberikan pembatasan karena untuk mendukung produktivitas turunannya.

“Kami juga mengembangkan ke beberapa kecamatan lain yang memiliki iklim dan topografi wilayah yang hampir sama dengan Kaligesing. Seperti di Loano, Bener, Gebang atau Bruno,” katanya.

Kepala Bidang Peternakan DPPKP Purworejo Siti Lestari menyebut, pihaknya berusaha mempertahankan agar Kaligesing tetap bisa menjadi sumber bibit atau genetik kambing tersebut. Ada dua dasar yang membuat pihaknya harus mampu menjaga kelestariannya.

Siti menyebut kambing kaligesing sudah memiliki penetapan galur yang dituangkan dalam SK Mentan No 2.591/ktps/PD/400/7/2010. Sedangkan penetapan sebagai wilayah sumber bibit tertuang dalam SK Mentan No 346/ktps/PK.020/5/2016.

“Makanya kami berusaha bisa membeli kambing turunan dari yang memiliki kelas itu untuk dihibahkan kepada peternak lain di kecamatan kaligesing. Selain itu juga menghibahkan ke kecamatan lain yang memiliki iklim sama, tujuannya untuk pelestarian genetik,” kata Siti.

Secara periodik setahun sekali, petugas kesehatan hewan juga turun ke lapangan untuk mengambil sampel darah. Ini akan dilakukan pengecekan laboratorium. “Kami pantau kesehatan kambing kaligesing. Apakah ada sumber penyakit yang dapat menganggu keturunannya nanti,” ujar Siti.

Potensi Kambing Jadi Magnet Wisata

Pembudidayaan kambing kaligesing menyemangati anak-anak muda di Desa Pandanrejo untuk menjadikan kawasan mereka tinggal sebagai destinasi wisata menarik. Ada banyak ragam wisata yang ditawarkan kepada orang luar daerah untuk datang ke tempat mereka.

“Dari sebuah kambing kami bisa memberikan edukasi untuk pengunjung. Dan tarafnya kami sesuaikan sesuai tingkat pendidikan mereka. Kalau anak SD kepada pengenalan anatomi tubuh, SMP kepada perawatan dan SMA/SMK ke arah penjualan kambing,” kata Albertus Desy Nugroho, inisiator wisata desa Pandanrejo.

Dijelaskan, keberadaan kambing ini menjadi sebuah wisata spesifik yang unik dan diharapkan akan bisa mengundang orang lain untuk datang. Konsep wisata edukasi ini diperkuat dengan dukungan topografi wilayah yang berada di ketinggian.

“Kami memiliki tantangan agar masyarakat Pandanrejo itu sendiri di mana dari sejarah, perawatan, memberi pakan hingga produk lain yang dihasilkan kambing itu akan paham. Jadi semua orang bisa menjelaskan mengenai perihal perkembangan kambing ini,” jelas Desy.

Niat mulia ini sendiri mendapatkan dukungan wilayah, Pandanrejo dikenal memiliki dua destinasi menarik yakni Puncak Gunung Gajah dan Bukit Sibutrong. Kedua destinasi ini punya keunggulan sendiri yang sama-sama menjual panorama alam. (udi/laz)

Purworejo