RADAR JOGJA –Tradisi unik menyambut datangnya bulan Maulud digelar unik di Kabupaten Purworejo. Setiap desa atau wilayah memiliki kekahasan sendiri dan berbeda antara satu tempat dengan yang yang lain.

Khusus di Desa Somongari dilakukan sehari setelah datangnya bulan Maulud. Hal ini disesuaikan dengan penanggalan Jawa Aboge yang mereka anut. Desa yang selama ini dikenal dengan kegiatan Jolenan di bulan Sapar ini menggelar tradisi turun temurun itu secara berkelompok. Pembagian di lima titik itu disesuaikan dengan pedukukuhan karena jika disatukan akan memunculkan kerumunan yang sangat besar.

Hal unik yang ada dalam tradisi ini adanya penggunaan daging ayam. Warga membawa cething atau tempat nasi yang dilengkap dengan nasi, sayur dan lauk. Sementara nama capet diberikan kepada bilah bambu yang sedikit diiris lagi untuk menempatkan daging ayam. “Ada 12 daging ayam yang ditempatkan dicapet. Itu dimaksudkan sebagai tanggal kelahiran Nabi,” kata Panut, warga Dusun Dukuhrejo yang tinggal satu pedukuhan dengan kades setempat, Subagyo.

Biasanya, kepala desa atau kepala pedukuhan akan memukul kentongan sebagai tanda sudah datangnya waktu. Dan pelaksanaan kemarin yang diadakan pada Jumat (29/10) sedikit diundur karena bertepatan dengan Jumatan. “Biasanya kegiatan ini digelar setiap pukul 12.00,” imbuh Panut.

Dijelaskan Panut, jika bawaan yang dibawa oleh warga akan dikumpulkan atau disatukan dalam tempat khusus. Dalam pedukuhan Dukuhrejo sendiri ada enam tempat yang digunakan untuk menyatukan. “Setelah tercampur, nanti akan diambil sebagian kecil untuk dikirimkan ke para perangkat atau pemangku kebijakan di tingkat pedukuhan. Dan Pak Kades itu mendapat kiriman dari semua pedukuhan yang ada,” jelas Panut.

Dari 12 capet yang dibuat warga, ada empat capet yang diambil untuk nantinya sebagai hantaran kepada para perangkat tersebut. Setelah pengiriman selesai, selanjutnya dilakukan sedikit seremoni dimana akan diisi sambutan dari kepala dukuh, kades serta penutupan digelar doa bersama. “Nah setelah doa bersama itu, baru semuanya dibagi kepada masyarakat dan ditempatkan pada cething yang dibawa. Jadi yang sebelumnya dibawa dari rumah itu, sudah berbeda dengan yang dibawa pulang,” imbuh Panut.

Kepala Desa Somongari, Subagyo menuturkan jika tradisi itu sudah dilakukan sejak keberadaan Desa Somongari. Diakuinya jika lokasi kegiatan memang dipecah dalam pedukuhan. Dulu pernah dilakukan di dua tempat, namun pesertanya sangat banyak. “Tidak ada kewajiban bagi warga untuk mengikuti ini. Bagi mereka yang mampu dipersilakan, sementara yang tidak mampu tidak mengikuti juga tidak masalah. Namun, hampir seluruh keluarga yang ada di Somongari ini mengikuti,” kata Subagyo. (udi/pra)

Purworejo