RADAR JOGJA – Kawasan pantai selatan memiliki peluang besar untuk pengembangan udang vanamei. Bapennas tengah melakukan kajian untuk peningkatan produksi terhitung dari Kuloprogo, DIJ hingga Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

Kondisi air yang relatif bersih dan dukungan banyak aliran sungai yang berhilir di sepnjang Samudera Hindia menjadi modal penting untuk pengembangannya. Hanya saja, pembudidaya udang harus peka dengan lingkungan dan tidak membuang limbah seenaknya.

Beragam kendala di lapangan yang selama ini ada pun diselami, diharapkan mulai 2022, penggarapan produksi udang ini akan semakin meningkat. Tidak dilakukan pada 2021 dikarenakan Bappenas masih harus melakukan pengkajian mengenai peruntukan anggaran yang hendak disiapkan.

“Pengembangan udang ini terbukti sudah mampu meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat yang ada di sekitar pesisir pantai. Kita perlu melakukan intervensi agar produksi yang ada bisa digenjol lati,” kata Direktur Regional I Bappenas, Uke Muhammad Husein saat datang di Desa Jatikontal, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, pekan lalu.

Salah satu yang perlu dipetakan adalah kepemilikan tanah yang digunakan oleh para pembudidaya. Pihaknya siap membantu kepastian kepemilikan tanah serta melakukan kajian apakah lahan yang dipakai itu mengganggu lingkungan atau tidak.

“Kami merekam ada beberapa kendala mengenai pembudidayaan ini dari warga yang ada di Kecamatan Purwodadi, Ngombol dan Grabag. Permasalan yang ada cukup beragam,” tambahnya.

Akses jalan juga menjadi salah satu masukan yang menarik, selain itu keberadaan jembatan juga perlu dipikirkan. Adanya sungai pasir sebelum mencapai kawasan pantai selama ini dibantu adanya jembatan. Namun ukuran jembatan-jembatan itu relatif sempit.

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Sugeng Raharjo meminta pembudidaya tetap memperhatikan kapasitas udang yang dikembangkan di kolamnya. Selama ini pembudidaya melakukan pemeliharaan yang melebihi kapasitas, akibatnya angka produksi malah menurun.

“Penambahan untuk dua sampai tiga siklus memang akan tampak. Tapi di siklus keempat akan mulai rusak,” kata Sugeng.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Purworejo, Wasit Diono mengatakan jika tambak di Purworejo mulai dikembangkan di 2010. Lahan yang ada sebelumnya merupakan lahan kosong yang tidak digunakan.

“Lahan yang digunakan sebagai tambak udang vanamei di Purworejo itu ada sekitar 400 hektar,” kata Wasit Diono.

Dari luasan itu, dalam satu tahun mampu menghasilkan 3.200 ton dan dikembangkan oleh 632 petambak. “Hasil ini kalau dirupiahkan itu mencapai Rp 155 miliar,” imbuh Wasit Diono. (udi/pra)

Purworejo