RADAR JOGJA – Saluran air di Desa Rebug Kecamatan Kemiri Purworejo memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan lainnya. Air yang dialirkan itu mengalir cukup jauh. Airnya pun harus melalui terowongan yang dibuat sepanjang 50 meter. Apalagi keunikan lainnya?

Budi Agung, Radar Jogja, Purworejo

Suara air yang menerjang bebatuan kecil di Desa Rebug terdengar jernih. Karena tidak ada keramaian. Berada jauh dari pemukiman warga. Keberadaan air ini amat jernih dan nyaman untuk keceh atau bermain air.

Dari kejauhan kelokan saluran terlihat jelas. Karena titik pengambilan air berasal dari Bendungan Rebug. Yang masuk menampung air dari wilayah Kecamatan Bruno di Desa Kedunglo, Kecamatan Kemiri. Pemandangan ini masih dipadukan dengan tebing-tebing. Baik yang berupa tanah maupun batu yang berada di atas saluran.

Untuk mencapai tempat ini, jaraknya relatif sedang dari kantor balai desa. Namun warga sudah biasa melalui tempat tersebut. Karena ada satu dusun yang berada atau berdekatan dengan Desa Kedunglo.

Saat ini masih dipakai untuk memenuhi kebutuhan air sawah di Kecamatan Kemiri, Kutoarjo bahkan Butuh. Pembangunan bendungan itu sendiri dilakukan oleh Bupati Purboatmodjo yang berkuasa di sekitar 1856. Praktis, usia bangunan amat tua. Ada beberapa bukti batu bata yang digunakan untuk pembangunan bendungan berbeda dengan batu bata sekarang ini.

Sensasi akan didapatkan saat turun ke saluran dan menuju ke terowongan utama yang oleh warga setempat disebut dengan orong-orong itu. Cukup jauh untuk mencapai terowongan yang ada. Sebelum mencapai tujuan, akan disuguhi pemandangan indah hasil garapan tangan manusia tempo dulu.

Ya, kanan kiri tebing tersusun sangat rapi. Tanah padas yang ada seakan dikikis amat telaten karena cukup rata. Kondisinya akan semakin meninggi saat mendekati terowongan dimana ketinggiannya mencapai lebih dari 20 meter.

Kanan-kiri dan tepat di atas terowongan, padas yang ada semakin cantik. Karena pintu utama terowongan juga teramat simetris. Memiliki tinggi lebih dari dua meter dari dasar saluran, sementara lebarnya sekitar 1,5 meter. Cukup untuk masuk orang tanpa harus menunduk.

“Saat proses pembangunan dulu, menurut cerita dari simbah-simbah kami itu dari dua arah. Yaitu dari titik masuk air dan pintu keluar air. Kebetulan di dalam itu tidak ketemu, jadi walaupun pendek dari pintu masuk tidak terlihat ada cahaya pintu keluarnya,” kata Supanto, warga Desa Rebug, kemarin (28/9).

Supanto mengaku tidak paham secara detail, pembangunan itu melibatkan berapa banyak orang. Hanya saja dibagian dalam terdapat ceruk-ceruk di dindingnya. Keberadaan ceruk itu dimanfaatkan untuk menyimpan air para pekerja.

Secara keseluruhan, terowongan itu tidak ada sentuhan semen, batu bata ataupun pasir. Seluruhnya menggunakan tanah padas.

“Selama ini kami juga tidak pernah menemukan semacam serpihan bahan bangunan,” imbuh Supanto.

Hingga saat ini, warga belum melakukan tindakan apa-apa terhadap tempat tersebut. Hanya saja Kepala Desa Rebug mengisyaratkan menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata.

“Kami ada rencana untuk membuat semacam tempat wisata dengan menjual tempat tersebut. Tapi memang belum banyak melangkah,” kata Kades Rebug, Sudiyanto.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Pranoto menyebutkan, jika ada banyak jejak yang ditinggalkan oleh Bupati Kutoarjo Purboatmojo. Salah satunya adalah keberadaan bangunan bendungan yang tersebar di beberapa titik.

“Pembangunan bendungan itu dipicu terjadinya banjir besar di wilayah Kutoarjo, sehingga beliau berinisiatif untuk membangun bendungan-bendungan untuk mengatur air,” kata Agung Pranoto. (pra)

Purworejo