RADAR JOGJA – Belum semua petani padi di Kabupaten Purworejo mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Padahal, program ini melindungi petani. Yakni, dari kerugian nilai ekonomi usaha tani padi akibat gagal panen karena bencana alam maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Kepala DPPKP Purworejo Wasit Diono mengatakan, di Purworejo tercatat ada 86.962 petani padi. Dari jumlah tersebut, baru 5.103 petani yang mengikuti program AUTP.

Menurutnya, syarat ikut AUTP adalah petani maupun buruh tani yang memiliki luas lahan maksimal dua hektare. ”Untuk menjadi peserta AUTP mendaftar melalui online, yang akan didampingi penyuluh pertanian lapangan. Sedangkan subsidi anggaran pemerintah dari APBN dan APBD Provinsi Jawa Tengah,” kata Wasit disela acara penyerahan klaim AUTP bagi 108 petani di Desa Rowodadi, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, kemarin (17/6). Penyerahan dilakukan Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti.

Kegiatan itu dihadiri perwakilan dari Dinas Pertanian dan Dinas Kelautan Perikanan Jawa Tengah. Ada pula pejabat dari Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan Purworejo.

Menurut Wabup, petani kerap kali harus menanggung beban ekonomi yang amat berat. Saat terjadi gagal panen, mereka selalu menjadi korban. Terlebih, gagal panen tersebut biasanya memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. “Gagal panen yang dialami para petani itu memciu terjadinya kenaikan harga kebutuhan pokok,” tandasnya.

Menurut Wabup, gagal panen tidak mudah ditangani. “Kondisi ini sering dimanfaatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi,” kata Yuli.

Saat gagal panen, petani biasanya langsung pergi ke tengkulak untuk meminjam modal untuk kembali bertani setelah mengalami kegagalan. Ketika musim panen tiba, akhirnya hasil panen akan dijual sangat murah ke tengkulak sebagai bayaran atas pinjaman modal. “Kalau pola ini terus terjadi, akan sangat sulit untuk memutus rantai ini,” tegasnya.

Yuli mengaku sangat senang adanya program AUTP yang diluncurkan pemerintah. Program itu melindungi kerugian nilai ekonomi usaha tani padi akibat gagal panen karena bencana alam maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Asuransi ini diharapkan petani menjadi memiliki modal kerja untuk penanaman berikutnya.

“AUTP ini sangat menguntungkan. Saya lihat premi yang dibayar amat ringan karena hanya Rp 36 ribu untuk satu hektare lahan permusim. Kalau sampai gagal panen, besaran yang diterima cukup besar sampai Rp 6 juta,” imbuh Yuli. (udi/amd)

Purworejo