RADAR JOGJA – Hujan deras pada Kamis lalu (5/3) berdampak terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Purworejo. Hujan tersebut mengakibatkan setidaknya ada 13 sekolah kebanjiran.

Kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di belasan sekolah itu semoat terganggu. Selama dua hari hari pascabanjir, proses belajar tidak bisa berlangsung maksimal karena guru dan siswa membersihkan lingkungan sekolah dari lumpur dan air yang sempat menggenang.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Purworejo Sukmo Widi Harwanto menilai dampak yang tidak ditimbulkan masih ”lebih baik” dibandingkan banjir yang terjadi dua tahun lalu. “Untuk tahun ini, air yang masuk ke kelas tidak sampai merusak barang yang dimiliki sekolah,” jelasnya Minggu (8/3).

Diungkapkan, sekolah yang terdampak banjir itu terdiri 11 sekolah dasar (SD) dan 2 sekolah menengah pertama (SMP). Dia memberikan apresiasi kepada sekolah yang sudah melakukan antisipasi sehingga banjir tidak mengganggu proses belajar mengajar.

“Ketigabelas sekolah ini terpaksa meliburkan anak-anak pada Kamis. Tapi, Jumat (6/3) anak sudah masuk tapi hanya melakukan kerja bakti di sekolah masing-masing,” imbuh Sukmo.

Sedangkan pada Sabtu (7/3), semua proses belajar mengajar sudah pulih. Siswa sudah kembali belajar.

Dindikpora tidak mendapatkan laporan mengenai adanya barang inventaris milik sekolah yang mengalami kerusakan. “Sehari pascabanjir, saya dan tim sudah melakukan pantauan ke sekolah-sekolah. Semua sekolah terdampak melakukan pembersihan dan memulangkan anak lebih awal,” tambahnya.

Terkait posisi sekolah yang terdampak banjir, Sukmo menyebutkan, sekolah yang terdampak banjir tersebar di tiga kecamatan. Yakni, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Purwodadi, dan Kecamatan Grabag.

Kepala SMP Negeri 8 Purworejo Kusnaeni membenarkan adanya banjir sempat mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Tercatat selama dua hari para siswa di sekolah yang dikelolanya tidak bisa melakukan kegiatan belajar secara optimal.

“Hari pertama pas banjir (Kamis), otomatis anak harus pulang lebih awal. Sementara hari kedua (Jumat), anak hanya melakukan kerjabakti membersihkan lingkungan sekolah yang terkena banjir,” kata Kusnaeni.

Dampak banjir di sekolah yang berada di Desa/Kecamatan Purwodadi ini, lanjut Kusnaeni, tidak separah dibandingkan dampak banjir beberapa tahun lalu. Air hujan yang masuk ke sekolah ini tidak mengandung lumpur. Upaya pembersihan dalam dilakukan dengan mudah.

“Kalau dulu, air bisa menjebol tembok bagian belakang (sekolah) dan membawa lumpur ke dalam sekolah,” tambahnya. (udi/amd)

Purworejo