PURWOREJO – Memasuki musim kemarau banyak desa di Kecamatan Kemiri membutuhkan pasokan air bersih. Demikian halnya dengan daerah lain di Kabupaten Purworejo.

Hal ini menjadi sorotan tersendiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purworejo Supangat. Dibandingkan beberapa tahun silam, kondisi kekeringan yang ada kini semakin parah dan membutuhkan perhatian banyak pihak.

Menurunnya populasi pohon sebagai penyimpan air, bisa menjadi salah satu pemicunya. Dan yang menjadi perhatiannya adalah kebijakan Perhutani yang memilih mengembangkan pohon pinus di lahan yang dimiliki. “Dulu soal mata air tidak terlalu bermasalah. Tapi sekarang boleh dikatakan kronis,” kata Supangat Minggu (7/7).

Tiga kecamatan yang menjadi perhatiannya masing-masing Kecamatan Kemiri, Pituruh, dan Bruno, merupakan wilayah yang ada lahan Perhutani-nya. Dan permasalahan yang dihadapi hampir sama.

“Khusus di Kemiri ada empat desa yang jadi langganan awal droping air bersih. Memang satu desa sudah bisa diatasi dengan pipanisasi,” tambahnya.

Pihaknya berharap Perhutani bersikap lebih arif dan tidak sekadar menanam pinus. Ada beberapa hektare yang ditanami jenis pohon yang mampu menyimpan air. Supangat yakin jika hal itu dilakukan keberadaan mata air akan terjaga.

Menanggapi hal ini, Manajer Bisns Perum Perhutani Kedu Selatan Farichin menolak jika dikatakan tanaman pinus menjadi pemicu semakin berkurangnya sumber mata air. Malah sebaliknya jika tegakan pinus rapat menjadikan resapan air akan semakin baik.

“Selama ini memang ada anggapan masyarakat seperti itu, padahal tidak benar,” kata Farichin. Menurutnya, penanaman pinus memiliki beberapa maksud, di antaranya, untuk pendapatan, penahan erosi sekaligus menjaga mata air. Diakui, pihaknya memiliki tugas pula untuk memberikan edukasi mengenai hal tersebut kepada masyarakat. (udi/laz/zl)

Purworejo