PURWOREJO – Pengunjung Purworejo Kite Festival 2019 harus bersabar untuk bisa menyaksikan layang-layang spektakuler mengangkasa Minggu (30/6). Tiupan angin yang belum sesuai harapan menjadikan layang-layang baru bisa mengembang selepas duhur.

Bupati Purworejo Agus Bastian yang mencoba menerbangkan layang-layang bergambar Mbah Marijan usai seremoni pembukaan, harus berulang kali berlari untuk menambah angin. Sayang, dari beberapa upayanya belum membuahkan hasil. Layang-layang yang sudah sempat terbang harus kembali turun.

Tamu undangan lain yang mencoba menerbangkan juga tidak bisa menaikkan secara sempurna. Baru menjelang tengah hari, layang-layang dari kategori tradisional bisa terbang dengan baik.

Kegagalan dalam usaha awal itu tidak menjadi kendala berarti dalam perhelatan tahunan festival layang-layang  kali ini. Dibandingkan tahun sebelumnya, perhelatan tahun ini jauh lebih apik dan menarik. Serta menghadirkan pengunjung yang lebih banyak.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo Agung Wibowo mengungkapkan, ada lima nomor yang dilombakan, meliputi dua dimensi, tiga dimensi, tradisional, train/naga serta rokaku.  “Dua kelas yang pertama yakni dua dan tiga dimensi kita terbangkan atau lombakan pada Sabtu (29/6) Minggu,” kata Agung.

Sedangkan tiga kategori tersisa baru dihelat Minggu. Di hari pertama lomba tercatat 0.000 pengunjung yang turut menyaksikan layang-layang itu mengudara. “Pesertanya ada 53 klub nasional dan dua klub lokal dari Purworejo,”  tambah Agung.

Selain itu juga dimeriahkan dengan tampilan layang-layang luar negeri yang mengikuti eksebishi. Ada tiga negara yang turut serta yakni Malaysia, Swedia, dan Jepang.

Bupati Agus Bastian mengatakan, pihaknya ingin terus meningkatkan kualitas festival layang-layang tersebut. Dari sekarang yang lebih didominasi oleh peserta nasional dan luar negeri hanya eksebishi, diharapkan di tahun mendatang bisa berkelas internasional.

“Ini sudah menjadi event tahunan dan diselenggarakan yang kali ketiga. Tentunya kami akan mendorong agar bisa menjadi sebuah event internasional,” kata Bastian.

Dengan diikuti peserta dari luar negeri, secara tidak langsung akan mengangkat nama Purworejo di level internasional. Ini amat menguntungkan karena selaras dengan tekad menjadikan tahun 2020 sebagai tahun kunjungan wisatawan.

Dan penyelenggaraan itu diharapkan bisa menggugah masyarakat Purworejo untuk terlibat aktif dalam penyelenggaran. Bahkan tidak menutup kemungkinan ke depan perhelatan itu tidak lagi dilakukan pemerintah. “Akan sangat menarik kalau kegiatan ini dilakukan pihak ketiga, bukan lagi pemerintah,”  tandas bupati. (udi/laz/er)

Purworejo