HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MANFAATKAN HUTAN: Salah satu penggemar sepeda Downhill saat melintas di lintasan yang dibuat alami di wilayah hutan Sidorejo, Purworejo kemarin (22/10).
PURWOREJO – Kawasan hutan rakyat milik warga Desa Sidorejo, Purworejo setiap Minggu menjadi pusat pertemuan masal para peng-gemar sepeda gunung. Hutan yang didominasi pohon keras itu berubah menjadi arena bersepeda yang mengasyikan dalam setahun terakhir.Hutan dipasangi semacam tali panjang yang terbuat dari bekas kain spanduk. Tidak tanggung-tanggung, panjangnya lebih dari 2 kilometer dan tak terputus. Medannya juga menantang, karena tingkat kecura-man yang ekstrem. Di beberapa titik dipasang tumpukan karung berisi tanah untuk arena jumping.
“Awalnya survei kecil-kecilan di lokasi ini dengan beberapa orang teman yang suka bersepeda downhill. Dengan kecuraman dan asrinya hutan, kami menilai lokasi ini layak dijadikan arena bersepeda downhill,” ujar Feri Setyawan, salah seorang penggagas rute, kemarin (22/10).Sebelum memasuki kawasan hutan di Sidorejo, para pecinta olahraga ekstrem disuguhi peman-dangan hutan. “Jika harus terus mencari dan mendapat lokasi yang pas, kami berpikiran alangkah baiknya jika punya arena sendiri yang ada di dekat kota,” imbuhnya.
Melihat tantangan hutan di Si-dorejo, Feri dan teman-temannya bersepakat untuk menyulap hutan sunyi itu menjadi kawasan balapan. “Memang banyak yang harus di-kerjakan, tapi sebelum melangkah jauh, kami kulonuwun dulu dengan kepala desa,” ujarnya.Gayung bersambut, Kades Sido-rejo Supri Yuliyanto menyambut baik keinginan pecinta sepeda gunung itu. Setelah melalui bebe-rapa proses, akhirnya disepakati untuk membuka kawasan hutan menjadi arena downhill.
“Atas seizin pemilik lahan dan se-pengetahuan desa, kami mulai mem-buat jalan yang sebelumnya tidak ada. Kami mulai menggagas arena itu di akhir 2013 lalu,” ujar Feri.Lambat laun, dengan adanya arena khusus itu, komunitas down-hill di Purworejo juga tumbuh. Hal itu bisa dilihat dari makin ramainya Sidorejo di setiap Minggu. “Untuk bisa menggunakan kawasan ini, setiap orang dalam satu trip dikenakan tiket Rp 3.000. Uang adminis-trasi ini kami serahkan kepada desa dan masyarakat,” ungkapnya.
Setelah ramai, beberapa komunitas dari luar Purworejo berkeinginan untuk menjajalnya. Namun karena belum lengkapnya fasilitas yang dimiliki, komunitas Purworejo belum berani mempublikasikannya. “Saat ada kegiatan bareng di luar kota, kabar adanya arena di sini sudah ditanyakan. Tapi kami belum membukanya secara luas, karena ada beberapa hal yang harus dibenahi,” katanya lagi.
Kelemahan yang masih terus ditutup meliputi ketersediaan lokasi start, akses menuju start, keselamatan di lokasi menantang dan adanya tan-jakan. “Utamanya adalah akses ke lokasi start dimana di situ seharusnya ada sedikit lapangan untuk persiapan saat ada even. Yang tak kalah penting adalah ketersedian jaring di beberapa titik yang berisiko,” imbuhnya.Kepala Desa Sidorejo Supri Yuli-yanto menyambut baik dan mewu-judkan keinginan para pecinta downhill itu untuk membuat arena khusus di desanya. (tom/jko/ong)

Purworejo