Perilaku Para Petani Cenderung Tidak Tertib

PURWOREJO – Jumlah sumber mata air di Kabupaten Purworejo semakin menipis. Berdasarkan kalender musim, minggu ketiga di bulan September ini sudah memasuki puncak musim kemarau. Kondisi itu berdampak terhadap pasokan air irigasi yang menurun hingga 75 persen.
“Seperti biasa, pertengahan September air irigasinya menurun drastis. Berdasarkan hasil pantauan tim di lapangan, penurunan debit air di Daerah Irigasi (DI) di Kabupaten Purworejo rata-rata mencapai 75 persen,” ujar Susanto, Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Purworejo, kemarin (18/9).
Susanto menyebutkan, sisa debit air yang mengalir dari bendungan hanya berkisar 25 persen.Hal itu mengakibatkan distribusi air di seluruh DI di Kabupaten Purworejo harus dilakukan bergilir. Pola pengairan bergilir itu masih disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan yang dikoordinasikan dengan peguyuban petani pemakai air (P3A).
“Secara kelembagaan, P3A sekarang pembinaannya dipindahkan dari kami ke Dinas Pertanian. Ini menjadi salah satu kendala komunikasi dan koordinasi kami dengan P3A. Namun kami tetap mengundang P3A setiap kali akan ada pembagian air,” sebutnya.
Kendala serius yang dialami dalam pengelolaan air pada setiap puncak musim kemarau seperti saat ini adalah para petani pemakai air yang cenderung tidak tertib. Ia mencontohkan, sejumlah petani di wilayah atas justru tanam pada akhir-akhir.
“Seperti sekarang ini, semestinya sudah tidak ada yang menanam padi. Tapi di beberapa wilayah masih saja ada yang tanam. Hal-hal seperti inilah yang seringkali menimbulkan persoalan di lapangan,” ujarnya.
Susanto berharap, para petani di Kabupaten Purworejo taat dan mematuhi jadwal tanam. Dimana saat ini petani seharunya menanam palawija yang memiliki kebutuhan air lebih sendikit dibanding padi.
“Sejak Juli semestinya sudah memasuki masa pemeliharaan saluran. Tapi sekarang saja masih ada petani yang butuh air untuk menyelamatkan tanaman padi,” ucapnya. (tom/jko)

Purworejo