SLEMAN – Bukan hanya masyarakat adat Sasak di NTB saja yang memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku membangun rumah. Ternyata di DIJ juga ada rumah yang 90 persen materialnya dari kotoran sapi. Tepatnya di Dusun Tamanan Pabrik Tamanmartani Kalasan Sleman.

Ya, rumah berbahan kotoran sapi dengan bentuk menyerupai mercusuar yang dibangun di atas lahan seluas 360 meter persegi ini milik Iswanti. Kenapa kotoran sapi? Perempuan yang hampir berusia kepala lima itu menjelaskan material dari alam lebih mudah didapatkan. “Selain itu kotoran sapi juga tahan hingga puluhan tahun,” katanya.

Konstruksi bangunan rumahnya dibuat tanpa menggunakan rangka besi. Semua murni dari bahan alam. “Materialnya kotoran sapi, jerami dan kapur yang dimasukkan di dalam karung dan ditumpuk, untuk mengunci antar karung memakai kawat berduri,” jelasnya.

Bangunan rumah miliknya, diklaim tahan terhadap angin. Sebab bentuk rumah yang melingkar membuat permukaan rumah mampu untuk meminimalisir gesekan terhadap angin. Aerodinamis, istilahnya.

Rumahnya juga tahan gempa. Pasalnya, berdasarkan pengalaman saat gempa 2006, hampir seluruh rumah di kanan kirinya rata dengan tanah. “Untuk meredam fondasinya dibuat floating, dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter dan krikil yang ditumpuk. Di atas kerikil ditaruh karung,” katanya.

Rumah Iswanti sebenarnya mengadaptasi konsep monolithic dome. Yaitu konsep rumah dengan model setengah lingkaran yang sangat tahan gempa dan kebakaran.  Namun, disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang komunal. Sebab dengan konsep monolithic dome ruang yang diciptakan menjadi sempit. Sedangkan rumahnya dibuat lebih tinggi dengan modifikasi pada bagian atap.

Ada dua bangunan utama pada rumah miliknya. Dengan tinggi simbilan meter lebih. Bahkan dia juga membuat basement. Dua rumah utama itu dihubungkan dengan satu ruangan yang difungsikan sebagai ruang dapur dan ruang keluarga.

Dia memastikan seluruh konstruksi bangunan kuat dan tahan cuaca. Tembok rumahnya dibuat sangat tebal yaitu sekitar 50 sentimeter. “Perlu waktu tiga tahun, yaitu dari 2014 hingga 2017 untuk siap huni,” bebernya.

Untuk eksterior, hanya tembok bagian luar yang diplester dengan semen. Itu pun bukan plester halus. “Agar tembok masih bisa benafas sehingga di dalam ruang sejuk,” ungkapnya.

Selain itu, setiap ruangan diberi botol minum bekas warna-warni. Sehingga saat cahaya matahari menembus botol, bisa membuat suasana ruangan menjadi lebih berwarna.

Bentuk jendela dan pintu juga cukup unik. Jendela berbentuk bulat dan pintu setengah lingkaran. “Itu fungsinya juga untuk membagi beban, agar konstruksinya lebih kokoh,” ujarnya. (har/pra/fj)

Properti