Jalan wisata harus dirancang sejalan dengan tujuannya tersebut dan mempunyai ciri khas yakni mampu mengeksploitasi keindahan alam.

Sejak berpuluh tahun yang lalu, Purworejo adalah salah satu kota yang pasti dilewati semua kendaraan yang lewat jalur selatan Pulau Jawa. Bukan hanya kendaraan angkut berat saja. Tetapi, justru puluhan ribu kendaraan pribadi musti melewati Kabupaten Purworejo.

Semua pengendara pasti ingat ketika berhenti di Kutoarjo. Tetapi, tidak mengerti kalau kota itu hanya sebuah kecamatan bagian kecil Kabupaten Purworejo.

Meski begitu banyak manusia yang berlalu-lalang melewati kabupaten tersebut, tak banyak rumah makan yang berdiri dan sejak dulu tak pernah ada perubahan. Jika rumah makan hanya kecil-kecil saja, dapat dipastikan di daerah tersebut tak banyak objek wisata yang diminati wisatawan.

Ibaratnya,para pelintas jalan yang jumlahnya puluhan juta per tahun tak pernah “diawe”: “Yuk mampir, Lur.” Orang Purworejo dan pemerintah daerahnya nggak “ngeh” bahwa pelintas jalan itu potensial dan membawa duit banyak banget.

Beda dengan Kabupaten Wonosari di Gunungkuliduk, yang lokasinya tersudut di sebelah tenggara D.I. Yogyakarta. Kabupaten ini lokasinya sangat jauh dari jaringan transportasi berat jalur selatan Pulau Jawa.

Bilamana orang ingin menuju lokasi di kabupaten ini mesti berpayah-payah harus bersedia lewat jalan yang sempit dan rumit. Dari segi lokasi dan aksesabilitas jalan, Gunungkidul sebetulnya tak punya kemudahan untuk menjadi kawasan wisata domestik, yang sebetulnya jauh lebih buruk dibanding kabupaten di manapun.

Purworejo dan Kulonprogo jauh lebih baik aksesabilitas ke jaringan jalan arteri dan juga punya objek wisata yang bagus pula. Namun dalam kenyataannya, justru Gunungkidul mampu lebih melejit menjadi kawasan wisata yang menarik dikunjungi.

Sejak 2005, Pemkab Gunungkidul berusaha melebarkan jalan-jalan ke seluruh objek wisata, seperti di Sleman. Bahkan, berusaha bekerja sama dengan semua kabupaten tetangganya agar aksesabilitas ke kabupaten tersebut dapat tembus ke mana saja.

Aksesabilitas yang diciptakan agar tidak hanya mobil penumpang saja yang bisa lewat. Tetapi, justru diciptakan agar masyarakat nyaman berwisata dengan kendaraan roda dua.

Akibatnya, wilayah Gunungkidul bisa tembus dari arah manapun oleh siapapun dan dari manapun. Dari Wonogiri dan Pacitan di sebelah timur. Dari Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo dari utara. Dari barat laut orang Sleman dan Kota Jogja dengan mudah masuk Gunungkidul lewat Prambanan dan jembatan Sembada-Handayani. Dari barat pun, masyarakat Bantul dengan mudah masuk ke Wonosari juga.

Meski jalan-jalan yang dibangun tersebut, belum termasuk kategori jalan wisata tetapi mempunyai makna yang sangat besar bagi pengembangan bisnis pariwista setempat dan juga para pelancong itu sendiri. Jalan yang belokannya tajam harus dibuat melingkar sehingga bus wisata dengan mudah melakukan manuver dan nyaman dilewati.

Puluhan jalan nasional dan kabupaten itu diluruskan. Sehingga, tanpa disadari kita pun merasa kehilangan kelokan “Irung Petruk” yang sangat terkenal itu. Dalam konteks itulah, jalan dibangun mempunyai makna dan tujuan yang ingin dicapai yang tak selalu sebagai suatu jaringan jalan transportasi multiguna. Tetapi, boleh juga dibangun jalan untuk kepentingan pariwisata.

Gunungkidul diam-diam membangun jaringan wisata sejak belasan tahun yang lalu. Jalan wisata sebagai mana jalan-jalan yang ada di negeri ini seperti rel lori, rel kereta api, saluran air, dan lain-lainnya adalah jalan yang dibangun untuk kepentingan khusus. Sebagaimana jalan tol, jalan wisata adalah jalan yang dikembangkan untuk tujuan khusus yang yidak masuk dalam kategori jalan umum sebagaimana jalan arteri nasional.

Dengan segala keterbatasannya, jalan wisata itu mampu memenuhi tujuan awal dan tentu harus berani memperbaiki bila ada kelemahannya. Masyarakat harus diajak mendukung bahwa jalan wisata itu dibangun bukan untuk mereka  jalan wisata itu untuk para tamunya yang ingin menikmati keindahan pesona wisata di daerah.

Mereka harus diajak bersama-sama menjaga jalan yang dibangun untuk para tamu daerah tersebut agar tetap indah dan asri. Bukan malah dikotori dengan lapak usaha yang menjadi sampah visual.

Itulah sebabnya, jalan wisata harus dirancang sejalan dengan tujuannya tersebut dan mempunyai ciri khas yakni mampu mengeksploitasi keindahan alam. Tentu jalan wisata lebih mengutamakan eksploitasi panorama yang eksotik sehingga jalan itu dirancang melewati pegunungan dan seluruh kawasan wisata.

Tentu saja jalan tol maupun jalan umum sangat berbeda. Jalan tol harus lurus agar kendaraan bisa berjalan dengan cepat. Begitu pula jalan umum, tidak mungkin bisa menjalani misi pariwisata di daerah. Sebab, jalan umum lebih fokus pada terciptanya aksesabilitas ekonomi antar wilayah di suatu daerah.

Dari aspek teknis pembangunan jalan pun berbeda. Jalan wisata dengan tonase yang seimbang dengan kendaraan angkutan penumpang berat dan tentu tidak sama dengan jalan umum yang harus mengakomodasi beban kendaraan angkutan barang yang jauh lebih berat. Dari aspek kecepatan berkendara pun, jalan wisata dilewati dengan kecepatan rendah agar penumpang bisa melihat panorama yang indah. Dan yang lebih penting, jalan wisata harus memberi ruang pada wisatawan untuk bisa berhenti di manapun guna menikmati alam.

Dari aspek pengelolaan pun, jalan wisata harus dikelola oleh dinas-dinas terkait dengan industri pariwisata dan harus dijaga bersama masyarakat. Jalan wisata harus dilindungi dengan aturan yang kuat agar tidak semua orang membangun bangunan ditepian jalan semau sendiri.

Sering kali bangunan masyarakat muncul dengan tiba-tiba tanpa persetujuan pemerintah daerah, yang pada akhirnya malah mengganggu fungsi jalan wisata dan merusak keindahan panorama. Inilah yang perlu menjadi kesadaran siapa pun bahwa tindakan yang semau sendiri (baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah) justru berpotensi merusak citra industri wisata setempat.

Banyak negara yang sumber kehidupan rakyatnya dari bisnis pariwisata. Begitu pula banyak pemerintah daerah di negara manapun yang menjadikan pariwisata sebagai sumber keuangan utama di atas sektor lainnya.

Namun, semua itu harus dilakukan dengan strategi holistik dan menjadikan semua aspek dalam sistem sosial dan pemerintahan berbasis pariwisata. Purworejo dan Kulonprogo pun punya potensi alam yang sangat indah. Belajarlah pada Mas Harto, Bupati Gunungkidul 2005-2010. (*/amd)

Properti