JOGJA – Dekorasi selain dengan barang bekas juga dengan memanfaatkan barang antik. Seperti fosil akar kayu, bagian gerobak sapi, dan bahkan kandang sapi.

Menurut salah seorang yang bekerja di toko barang antik di Ring Road Selatan Dwi Yuswanto, 40, selera pasar saat ini memang makin banyak mengarah kepada desain yang antik.

Hal itu bisa dilihat dengan maraknya warung atau kafe yang bernuansa tempo dulu. Kafe Bocor Alus contohnya. Di kafe itu banyak dekorasi yang mengangkat nuansa tahun 80 an.

Lebih lanjut, Dwi, sapaannya, saat ini banyak konsumen yang mencari pernak pernik seperti kandang sapi, luku, gebyok dan lain sebagainya. “Hanya saja untuk kandang sapi makin hari makin susah,” bebernya.

Permintaan, kata dia, justru paling banyak diterima dari luar negeri. Beberapa negara Eropa, Jepang, dan Amerika sering memesan di tempatnya. Menurutnya, barang-barang lawasan ini memiliki nilai tersendiri. “Lebih artistik,” katanya.

Selain itu, jenis kayu yang digunakan merupakan kayu jati tua. Sebab, di luar negeri tidak tumbuh pohon jati. “Sehingga mereka yang membeli ada seperti prestise tersendiri,” ucapnya.

Dwi menuturkan, semakin tua umur jati dan semakin sering kena cuaca justeru akan membuat indah perabotan itu. Sebab, setiap jati punya ciri khas berupa serat. “Dan serat itu makin lama makin keluar, dan tiap daerah serat jatinya akan berbeda,” jelasnya.

Bukan hanya itu saja, jati memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap cuaca. Sehingga tidak masalah meninggalkannya di luar. “Justru itu makin lama warnanya berubah, malah bisa jadi mahal, kan itu natural,” bebernya.

Soal harga, memang tergantung bentuk, kualitas serta umur. Makin tua kayu jati, makin mahal harganya.

Perabotan itu, rata-rata didatangkan dari Jawa Timur. Selain itu, juga mengambil dari bagian rumah yang sudah tua. “Geber, jendela, meja dan kursi antik biasanya kami ambil dari rumah yang tua,” jelasnya. (har/din)

Properti