JOGJA – Ekonomi rakyat secara mikro dimaknai sebagai ekonomi penunjang yang akan menjadi basis bagi pertumbuhan dan perkuatan ekonomi nasional secara keseluruhan dan berkesinambungan. Menurut Tommy Andri Wardhana, penerimaan pendapatan Negara yang tidak hanya tertumpu pada sebagian kecil kelompok memberi suatu indikasi bahwa distribusi pendapatan belum merata. Terbentuknya pemusatan kekuatan ekonomi pada sebagian kecil kelompok ekonomi akan menimbulkan arah ekonomi biaya tinggi.

Menurutnya, Rumah Ekspor adalah suatu langkah yang akan menjembatani usaha kecil menengah yang berorientasi ekspor untuk bisa menembus pasar internasional dengan cara langsung. Caranya dengan membangun jaringan perdagangan tanpa melalui banyak tangan. Hal ini akan membuat disparitas harga menjadi terkontrol dan tidak berfluktuasi sehingga stabilitas bisa dijaga dengan baik.

Posisi kekuatan ekonomi rakyat sebagai produsen dan penjual terhitung sangat lemah, oleh karena itu ekonomi rakyat harus dibantu dalam pemasaran produknya dalam bentuk linkage jaringan oleh suatu badan tertentu dalam hal ini rumah ekspor yang bisa dikelola suatu badan tertentu seperti Koperasi atau badan lain yang disetujui dan dikompromikan.

Dijelaskan, rumah ekspor adalah sebuah organisasi yang akan membantu pelaku ekonomi rakyat dalam hal pembukaan lapangan informasi export yang berkaitan dengan informasi harga, kualitas, standar, spesifikasi dan juga tata cara ekspor serta kekhususan sertifikasi di masing masing Negara.

Dalam kapasitas lingkup provinsi, maka Rumah Export akan bekerja sama dan didukung oleh provinsi baik berupa teknis maupun strategi. Pemerintah daerah harus membantu melindungi pengusaha pengusaha kecil yang berorientasi export untuk bisa berkembang serta memasarkan dibawah payung rumah export.

Rumah ekspor sebagai wakil dari gabungan seller akan membantu untuk melakukan match making antara seller dan buyer, sehingga kontrol perdagangan akan berada di bawah satu atap. ”Hal ini akan membuat kekuatan daya jual bisa stabil dan terorganisasi dengan baik. Buyer pun tentu senang bila berdagang dengan cara ini karena mendapat kepastian barang yang berkualitas baik dengan jaminan dan arahan dari Rumah Ekspor,” jelas Caleg DPR RI Dapil Jogjakarta Nomer 3 dari PPP ini.

Rumah Export harus aktif dalam mencari produk-produk yang selama ini mempunyai daya export tinggi namun masih rendah dalam harga. Sebagai contoh gula semut atau coconut sugar, VCO, Minyak Kelapa, Kerajinan, dll yang mempunyai daya jual tinggi dan diproduksi di Jogjakarta namun dalam kenyataanya tidak memiliki nilai tambah yang tinggi terhadap pelaku ekonomi rakyat.

Mengingat semakin pentingnya pengembangan rumah ekspor ke depannya, maka ini akan menjadi embrio keterlibatan Negara dalam membela rakyatnya dalam hal perdagangan.

”Negara hadir dalam setiap keluhan dan ketidakmampuan rakyat untuk maju dan berkembang. Rumah Ekspor haruslah memainkan peran utama dalam membangun ekonomi rakyat skala mikro yang sangat kuat untuk kemudian akan menjadi berikat satu sama lain sehingga menjadi kuat dan dapat menopang ekonomi dareah menjadi berdaya,” ungkap Tommy.

Rumah Ekspor juga harus mengembangkan diri sebagai start-up dan mengembangkan pemasaran digital untuk bisa merambah ke berbagai pasar dengan cepat dan tepat. (*/ila)

Politik