SLEMAN – Wakil Dekan Fisipol UGM Wawan Mas’udi mengatakan golongan putih (golput) bukan pilihan terbaik. Golput bisa mengancam proses demokrasi.
Padahal proses demokrasi di Indonesia masih dalam proses pematangan. Demokratisasi masih terus menghadapi ancaman ketidakpercayaan masyarakat.‘’Partisipasi pemilih menjadi tiang pancang demokrasi di Indonesia. Dengan tidak adanya keterlibatan warga negara, demokrasi tidak akan berfungsi secara optimal. Rendahnya partisipasi dalam Pemilu akan menjadi ancaman legitimasi demokrasi,” kata Wawan di UGM kemarin.

Pemetaan potensi golput Pemilu 2019 dilakukan Laboratorium Big Data Analytics, Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM. Disimpulkan, konsentrasi percakapan golput melalui media sosial (medsos) ada di Jawa.

Ditemukan 2.840 percakapan tentang golput melalui analisis melalui Twitter dan pemberitaan di 200 media online. Menunjukkan wilayah Jawa Barat ada di posisi teratas. Persentasi percakapan golput 21.60 persen. Disusul DKI Jakarta 14.94 persen, dan Jawa Timur 14.64 persen. “Jogjakarta hanya ditemukan satu pembicaraan mengenai golput. Jakarta 20 percakapan, Jawa Barat 17 percakapan, dan Jawa Tengah 12 percakapan. Ada akun yang dibuat khusus untuk kampanye golput,” kata Dosen DPP Fisipol UGM, Arya Budi.

Dikatakan, ada 269 atau 9,5 persen dari 2.840 percakapan tentang isu golput adalah percakapan yang terverifikasi mengampanyekan golput. Merupakan kampanye untuk tidak menggunakan hak suara pada Pemilu 2019.  Masifnya isu golput di Twitter dipicu beberapa akun tokoh yang memiliki pengaruh dengan jumlah follower banyak.

Momentum debat capres yang pada 17 Februari 2019 menjadi pemicu percakapan golput.“Bisa dikatakan, satu dari 10 percakapan tentang golput adalah percakapan untuk mengampanyekan golput,” ucap Arya. Wawan menjelaskan ada beberapa potensi seseorang menjadi golput. Yaitu discontent atau tidak puas dengan incumbent, namun memiliki pandangan yang tidak layak bagi oposisi. Calon pemilih melihat kandidat yang ada tidak mewakili apa yang diharapkan pemilih. “Sikap golput sebagai ekspresi protes,” ucap Wawan. (cr7/iwa/mg4)

Politik