RADAR JOGJA – Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Jogjakarta menggelar sekolah lapang iklim (SLI) tematik di Kapanewon Sentolo. Aksi ini sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang iklim dan cuaca. Kegiatan tersebut digelar di Balai Kalurahan Sukoreno pada Jumat (22/10).

Kepala BMKG Dwikora Karmawati mengungkapkan, tujuan digelarnya sekolah lapang tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat. Khususnya tentang informasi terkait iklim. Sasarannya adalah masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

“Harapannya petani bisa memanfaatkan informasi yang diberikan BMKG untuk berbagai hal yang berkaitan dengan produktifitas pertanian. Seperti diantaranya pengaturan air, irigasi dan penentuan pola tanam. Lalu juga antisipasi potensi iklim ekstrem, banjir dan kekeringan,” jelasnya, Jumat (22/10).

Ada empat unsur-unsur materi materi pokok yang disampaikan kepada peserta. Diantaranya unsur dan penggerak cuaca iklim di Indonesia. Adapula pengenalan dan pemahaman informasi iklim. Kedua materi disampaikan oleh Stasiun Klimatologi Sleman.

Adapula materi tentang iklim ekstrim dan bencana hidrometeorologi. Termasuk materi pemanfaatan informasi cuaca oleh BMKG Pusat. Untuk penyusunan pola tanam dan manajemen air irigasi dari Dinas PUKP Kulonprogo.

Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, pengetahuan serta pemahaman petani. Terkait kerentanan cuaca dan iklim dengan pola tanam. Para peserta juga didorong bisa menularkan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan SLI tematik kepada para petani lainnya.

“Sehingga dapat terwujud petani yang tangguh dan adaptif,” katanya.

Anggota DPR Ri Sukamta mengapresiasi kegiatan sekolah lapang iklim tematik ini. Menurutnya saat ini sudah saatnya masyarakat paham akan pengetahuan tentang cuaca. Khususnya bagi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian.

Ia pun berharap agar kegiatan tersebut bisa terus digerakkan oleh BMKG di berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga harapannya masyarakat bisa tahu dan paham tentang bagaimana menyikapi perubahan cuaca dan iklim di Indonesia. Guna meminimalisir kerugian di sektor pertanian.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar BMKG ini, karena kesuksesan sektor pertanian pasti tergantung dari cuaca. Petani yang paham akan pengetahuan tentang cuaca dan iklim, tentu hal tersebut akan meningkatkan produksi pertanian,” ujarnya. (inu/dwi)

Pertanian