RADAR JOGJA – Saat ini sektor pertanian terus bergerak maju. Dari pola tradisional ke pertanian modern. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi milenial.

Dengan hadirnya pendidikan vokasi pertanian, kesempatan generasi milenial yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertanian kian lebar.

Kini kaum milenial yang telah terjun dalam bidang pertanian pun mulai asyik mengembangkan usahanya. Tentu saja hal itu dapat membantu dan memperbaiki perekonomian Indonesia.

Nurul Fatonah, misalnya. Alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) Jurusan Peternakan itu menjadi seorang dari sederet pengusaha pertanian sukses.

Pada akhir 2014 lalu, Nurul mengikuti kegiatan usaha mahasiswa yang diselenggarakan oleh kampus melalui program penumbuhan wirausahawan muda pertanian (PWMP).
Dari situ tercetuslah ide membuat abon ayam. Gagasan itu dilatarbelakangi banyaknya peternak ayam di lingkungan sekitar tempat tinggal Nurul di daerah Kembangkuning, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tekadnya membuat usaha abon ayam karena penjualan daging di pasar sudah tidak menjanjikan lagi. Nurul bahkan kerap merugi setiap kali menjual daging ayam mentah lantaran harga jual di bawah harga pokok produksi (HPP).

Abon ayam kreasi Nurul Fatonah diklaim lebih gurih, tidak amis, dan disukai anak-anak karena rasanya lebih lembut saat dikunyah, dibandingkan daging sapi. “Boleh diadu rasanya dengan abon pada umumnya yang terbuat dari daging sapi atau ikan. Abon ayam ini diolah menjadi lembut, gurih serta tidak bau amis. Banyak yang pesan untuk anak-anak, manula, tentara, dan pendaki gunung,” ujar Nurul.

Sebagaimana umumnya wirausahawan, jatuh bangun dalam mengelola usaha juga dialami Nurul. Terutama saat dia masih menggeluti usaha daging ayam mentah. Saat itu dia masih duduk di bangku kuliah. Usahanya sempat goyah ketika harga jual daging ayam mengalami penurunan hingga Rp 8.000/kg BB hidup.

Beruntung, kala itu Nurul lantas difasilitasi oleh dosen pembimbingnya, Nur Prabewi, untuk mengolah daging ayam broiler menjadi abon ayam. Dia juga dibantu mempromosikan hasil olahan tersebut hingga lebih dikenal masyarakat.

Setelah lulus kuliah, Nurul tertarik untuk melanjutkan usahanya itu. Sekarang abon ayamnya sudah memiliki sertifikat pangan produksi rumah tangga (P-IRT). Produknya pun telah tersebar di berbagai kota di Jawa Tengah. Omsetnya bisa tembus Rp 80 juta per bulan.

Nurul mengaku suka usaha peternakan karena sesuai bidang ilmu yang dia kuasai. Yang dipelajarinya saat di bangku kuliah.

Selain itu, bisa menyediakan produk atau bahan makanan yang dibutuhkan konsumen menjadi kepuasan tersendiri. Terlebih dari usahanya itu, Nurul juga dapat lebih banyak mengenal serta menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Dan tentu saja menghasilkan income.

Jalan usaha yang digeluti Nurul tentu bukan tanpa rintangan. Ketersediaan sapronak yang belum terkondisikan, sulitnya pemasaran produk, hingga upaya mencari pelanggan tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi. Bahkan ada konsumen yang utang hingga sempat memacetkan usahanya.

Bagi Nurul, semua itu adalah dinamika dalam usaha. Dia tetap optimistis, sektor peternakan ke depan bisa berkembang secara kompleks. Dari hulu hingga hilir. Sehingga ketersediaan sapronak bisa lebih terkendali dengan harga stabil. Dengan begitu, kedaulatan pangan di Indonesia akan lebih mudah terwujud.

Kepada para petani milenial yang baru memulai usaha peternakan, Nurul berpesan agar mereka selalu yakin dan tidak takut memulai usaha. Dan harus menekuni usaha itu secara konsisten. “Manfaatkan keadaan untuk tetap berekspresi. Bisa jadi saat ini merupakan awal yang baik bagi kita semua, karena dapat menyediakan bahan pangan berupa protein hewani yang berperan dalam meningkatkan imun,” katanya.
“Melalui media sosial sangat membantu (pemasaran, Red), meski hanya di rumah saja,” sambung Nurul sambil tersenyum.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan, pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) pertanian sangatlah penting. Apalagi pertanian Indonesia saat ini memasuki era 4.0.

Sektor pertanian harus terus bergerak ke arah yang maju, mandiri, dan modern. Untuk itu, kompetensi SDM pertanian seperti penyuluh, petani, dan para praktisi pertanian harus terus ditingkatkan. “Era 4.0 ditandai dengan penggunaan mekanisasi dan digitalisasi sektor pertanian. Pertanian sudah bergerak maju dari pola tradisional ke pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Untuk itu, kapasitas SDM pun harus ditingkatkan,” ungkap Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan, jika ingin pertanian maju, majukan dahulu kualitas SDM-nya. “Karena SDM yang berkualitas bisa menghadirkan inovasi dan terobosan-terobosan yang dibutuhkan pertanian,” tuturnya.(*/yog)

Pertanian