RADAR JOGJA – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakara Magelang (Polbangtan YoMa) menjalani penilaian wawancara pemeringkatan keterbukaan informasi publik (KIP) 2021 pada Kamis (19/8/2021). Acara yang diselenggarakan secara online melalui Agriculture Operation Room (AOR) Polbangtan YoMa dihadiri oleh Direktur Dr Bambang Sudarmanto SPt MP beserta jajarannya.

Kegiatan tersebut dalam rangka menggali lebih dalam pemahaman kepala unit pelaksana teknis (UPT) terkait komitmen dan implementasi keterbukaan informasi publik di masing-masing institusi.

Bertindak sebagai ketua tim juri adalah Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat  Hendra J. Kede. Didampingi dua tenaga ahli Komisi Informasi Pusat Agus Wijayanto Nugroho dan Tya Tirtasari, MSi. Serta Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia M. Yasin SH MH dan Anggota Freedom of Information Network Indonesia Astrid Debora Meliala SH MH.

Mengawali acara penilaian, Hendra menyampaikan ucapan selamat kepada Polbangtan YoMa sebagai satu-satunya UPT pendidikan yang masuk 10 besar dalam keterbukaan informasi publik. “Polbangtan YoMa ini unit pendidikan tapi siap melayani publik,” pujinya.

Tim juri lantas mengulik ihwal kolaborasi dan hambatan Polbangtan YoMa dalam pelaksanaan pengelolaan dan penyebaran informasi publik.

Direktur Polbangtan YoMa Dr Bambang Sudarmanto SPt MP memaparkan bahwa keterbukaan informasi publik pada institusi yang dipimpinnya terjalin berkat kolaborasi bersama masyarakat dengan lembaga penelitian, pendidikan dan DUDI, serta pembelajaran menggunanan Teaching Factory (TEFA). Yang semuanya mengutamakan data dan kondisi sebenarnya di lapangan secara lengkap sesuai prosedur standar operasional.

Selanjutnya, menjawab pertanyaan M. Yasin tentang infromasi publik bagi mahasiswa dan dosen, Bambang menyatakan, seluruh mahasiswa dan dosen terlibat dengan memperhatikan kepuasan penggunaan layanan dalam kotak suara. “Selama pandemi ini, penyampaian tingkat kepuasan layanan juga bisa disampaikan melalui sistem e-aduan pada website: polbangtanyoma.ac.id,”  jelas Bambang.

Selain itu, Polbangtan YoMa juga memiliki aplikasi Si juru Tani yang bisa mengarahkan pada pengembangan mahasiswa sebagai job creator dan job seeker. Serta untuk meningkatkan pelayanan dan pengabdian pada masyarakat.

“Lantas bagaimana kolaborasi antara Polbangtan YoMa dengan masyarakat. Sehingga penyampaian informasi dapat diterima dan diserap oleh masyarakat, khususnya petani?” tanya Astrid Debora Meliala.

Bambang menjawab, kolaborasi dengan masyarakat sejauh ini menggunakan bahasa petani melalui forum Polbangtan berdasarkan peran triangel (penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan).

Menurut Bambang, berbagai keterbukaan informasi publik dalam bentuk kerja sama pendidikan/penerimaan mahasiswa baru telah dilakukan hingga daerah perbatasan Kalimantan. Selain itu, kerja sama penyuluhan dan penyelenggaraan pendidikan juga dilakukan dengan membangun pertanian di daerah perbatasan. Dan pemanfaatan layanan masyarakat menggunakan AOR, aplikasi pelayanan pertanian masyarakat.

Sementara itu, Kabag Umum Polbangtan YoMa Hari Sudharto SSos menambahkan, transformasi digital atau layanan online yang telah dilakukan berjalan cepat. Kendati demikian, pelayanan offline tetap dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Dimulai dari pos satpam,” katanya.

Keterbukaan informasi publik Polbangtan YoMa sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).  Mentan menegaskan bahwa publik berhak mendapatkan informasi dari instansi pemerintahan. Tak terkecuali UPT-UPT di bawah Kementerian Pertanian. “Seluruh jajaran Kementerian Pertanian wajib menjalankan komitmen keterbukaan informasi publik,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi. “Informasi public sudah menjadi kebutuhan kita semua. Makanya, seluruh instansi pemerintahan harus melakukan keterbukaan informasi publik dengan transparan,” pintanya.(*/yog)

Pertanian