RADAR JOGJA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus berupaya membangkitkan semangat generasi milenial untuk memulai berbisnis di bidang pertanian.

Upaya tersebut, di antaranya, melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) dan YESS.

YESS merupakan program Kementan dan International Fund for Agricultural Development (IFAD), yang dirancang untuk mengembangkan potensi generasi muda dan regenerasi petani di pedesaaan. Untuk menjadi wirausahawan muda dan tenaga kerja profesional di bidang pertanian.

Rayndra, alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa), adalah salah seorang milenial yang dilahirkan melalui program tersebut.

Pemilik usaha Cipta Visi Group ini memotivasi para milenial untuk mengobarkan semangat membangun desa. “Kita semua tentu bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkup sekitar yang paling dekat dengan kita,” ujarnya saat menjadi narasumber Millenial Talk Show pada The 2’nd MIA Expo 2021 di Ambarrukmo Plaza, Sleman, Minggu (13/6/2021)

Dalam talk show bertema “Millenial Meet Millenial” itu Rayndra menegaskan bahwa desa sangat memerlukan sentuhan banyak anak muda. Khususnya di era SDGs (Sustainable Development Goals) ini. Untuk membangun desa dengan tujuan mengembangkan pertanian Indonesia.

SDGs merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.

Pada kesempatan tersebut, selain memotivasi para generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian, Rayndra juga memperkenalkan produk Cipta Visi Group, di antaranya, gula semut, veganectar, dan virgin coconut oil (VCO). “MIA sangat bagus, mengangkat dan mengenalkan produk-produk lokal dari pengusaha muda di bidang pertanian, dan melebarkan kesting bisnis yang kami miliki,” katanya.

TALK SHOW MILLENIAL: Diskusi generasi muda bangkitkan sektor pertanian di The 2nd MIA Expo, Minggu (13/6/2021). (POLBANGTAN YOMA)

Terkait hal tersebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menekankan bahwa era teknologi digital tidak hanya mempermudah kerja manusia tapi pula dengan falitas teknologi mampu membuat manusia meraih kesuksesan. “Eramu mempersiapkan kehidupan itu dengan menyadari peranan yang ada menjadi penting. Karena kita berada pada era baru di mana semua terfasilitasi dengan sains riset dan teknologi,” turur SYL. “Inilah era yang terkecukupan. Semua orang bisa maju, bisa setara, kecuali orang yang tidak mau,” jelasnya.

Lebih lanjut, SYL mengatakan, lembaga pendidikan vokasi berperan penting mendorong anak muda agar terus berinovasi pada sektor pertanian sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Sudah saatnya kalian menjadi agropreneur pertanian yang inovatif, andal, dan profesional,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menyatakan, saat ini lebih dari 70 persen petani di Indonesia berusia 45 tahun atau lebih dan sementara ini mereka masih produktif. Tapi sepuluh tahun mendatang kondisi itu bisa menjadi masalah jika tidak ada regenerasi petani. Sehingga keberadaan petani milenial mutlak diperlukan mulai sekarang. “Pada saat yang sama juga harus dilakukan transformasi pertanian. Dari yang semula hanya kebiasaan tanam, petik, lalu jual, kini harus dialihkan ke agrobisnis yang bisa menghasilkan lebih banyak duit,” paparnya.

Dedi menegaskan, yang bisa berperan dalam agropreneur adalah anak-anak muda. Kaum milenial. “Oleh karena itu, Kementan mendukung penuh program-program penumbuhan petani milenial. Agar tercipta petani-petani muda andal yang menjadi agropreneur di seluruh pelosok Tanah Air,” kata Dedi.(*/yog)

Pertanian