RADAR JOGJA – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo mengaku khawatir pesatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia akan menyebabkan krisis energi. Salah satunya pangan nasional. Untuk mencegah krisis, maka harus dilakukan upaya peningkatan kebutuhan pangan nasional.

Firman mengatakan, pangan pokok di Indonesia, yakni beras, harus bisa didiversifikasi menjadi komoditas lain. Sehingga bangsa Indonesia tidak selalu bergantung pada beras. “Komisi IV DPR RI dan Kementerian Pertanian bersama – sama mencari cara agar produksi pertanian meningkat. Di antaranya dengan diversifikasi dan modernisasi pertanian,” ujarnya melalui Zoom saat menjadi narasumber bimtek di Kabupaten Pati, Rabu (24/3/2021).

Dikatakan, diversifikasi dan modernisasi pertanian memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Oleh karena itu, kebutuhan SDM-nya harus disiapkan sejak dini. Salah satunya melalui bimtek pertanian. “Bimtek ini tujuannya ya untuk memenuhi target – terget yang diarapkan. Karena masalah pangan ini kalo tidak tersedia bisa menimbulkan multiplier effect, akan terjadi krisis pangan seperti 19 60-an,” ungkap Firman.

Firman menaruh harapan kepada para peserta bimtek, yang ke depan diharapkan andil sebagai penentu tercapai atau tidaknya ketersedian pangan dalam upaya menuju kedaulatan pangan Indonesia. “Terima kasih kepada Kementerian Pertanian, khususnya Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang, yang telah memfasilitasi kegiatan pada hari ini,” ucapnya.

Mewakili direktur Polbangtan YoMa, Kepala UPPM Drs Akimi MM mengatakan, bimtek menyasar petani muda untuk memberikan motivasi agar mereka mampu melaksanakan kegiatan pertanian dengan maju, mandiri, dan modern. “Para petani milenial ini kami harapkan bisa menjadi job creator. Sehingga dapat mengajak masyarakat dalam berbagai kegiatan pertanian,” tuturnya.

Lebih dari itu, Akimi berharap, peserta bimtek mampu menyerap ilmu yang disampaikan para ahli atau praktisi yang hadir sebagai narasumber. Untuk kemudian diteruskan kepada kelompok tani di daerah asal masing-masing. Agar ilmu tersebut bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan usaha pertanian.

Hal itu sejalan dengan semangat Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, petani milenial harus mampu menerapkan ilmu pengetahuan sebagai modal untuk berpikir dan bertindak dalam mengembangkan dunia pertanian. “Generasi milenial harus mau berkorban demi meraih sesuatu yang lebih besar,” tegasnya.

Kepala BPPSDMP Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi pun tak henti-hentinya mendorong generasi milenial untuk terus maju dan mandiri. Hilangkan stigma dunia pertanian hanya untuk kalangan orang tua. Karena saat ini sudah banyak petani milenial yang berhasil secara ekonomi setelah menggeluti dunia pertanian.

Bimtek kali ini menghadirkan tiga praktisi pertanian. Pertama, Halimi Amd Pd yang mengisi materi tentang strategi penumbuhan generasi muda tani melalui kredit usaha bersama. Kedua, Sukamto SP, yang menggeber ilmu pertanian efektif dan efisien melalui metode mixed farming. Sedangkan praktisi ketiga Hendras Saputro SPt menjelaskan tentang manajemen peternakan domba.(*/yog)

Pertanian