KEBUMEN - SMPN 1 Buluspesantren terus menunjukkan komitmen sebagai sekolah peduli literasi. Hal ini dibuktikan melalui berlangsungnya kegiatan bertajuk Pesantren Jurnalistik yang diikuti warga sekolah. Yaitu guru dan siswa, Jumat (13/3) pagi.
Kepala sekolah SMPN 1 Buluspesantren Tri Nurhayati menyampaikan, di era disrupsi informasi seperti sekarang, penting bagi siswa cakap berliterasi.
Ia ingin melalui kegiatan tersebut siswa mampu memahami informasi secara kritis agar tidak terhasut dengan berita hoaks.
Menurutnya kemampuan literasi saat ini tidak hanya berkaitan membaca buku, tetapi juga bagaimana siswa mampu menyaring informasi dengan baik dan benar.
"Sekarang kita dihadapkan banjir informasi. Kalau tidak bijak, bisa terbuai dan terhasut," ucapnya.
Ia mengatakan, kegaiatan yang digelar merupakan bentuk ikhtiar agar siswa memahami sekaligus memiliki nalar kritis terhadap informasi yang beredar. Melalui kegiatan tersebut siswa juga didorong untuk terampil mengekspresikan ide dan gagasan melalui lisan maupun tulisan.
Dengan begitu diharapkan dapat terbentuk karakter siswa yang aktif dan kreatif. "Hari ini skill itu penting, maka kami siapkan anak-anak punya kemampuan supaya produktif dan berjiwa kompetitif," ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti para siswa dan guru dengan penuh antusias. Mereka diajak memahami materi penulisan berita. Selama kegiatan siswa dan guru dikenalkan terkait dasar jurnalistik, teknik wawancara, hingga penyusunan berita.
Melalui pelatihan selama tiga jam tersebut diharapkan akan lahir bibit-bibit jurnalis muda yang mampu menyajikan informasi secara kreatif dan edukatif.
Pada kesempatan itu peserta diajak memahami jenis-jenis berita dengan media pembelajaran melalui koran.
Selain penyampaian materi, para siswa juga diajak berdiskusi dan mempraktikkan tata cara memproduksi sebuah berita secara runtut. Adapun materi diisi langsung oleh wartawan Jawa Pos Radar Jogja.
Salah satu siswa Naila Latifah Amin mengatakan, kegiatan yang berlangsung dapat mennjadi motivasi agar lebih peduli terhadap budaya literasi.
Ia mengaku terkesan atas kegiatan tersebut karena menjadi pengalaman pertama mengikuti pelatihan jurnalistik. "Tadi diajari dari A sampai Z. Semula belum tahu apa itu jurnalistik, sekarang jadi tahu," ungkapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo