Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lustrum Ke-8 ISI Yogyakarta, Religi jadi Pendulum Kebebasan Praktik Seni dan Pemikiran Seni

Gunawan RaJa • Jumat, 7 Juni 2024 | 16:10 WIB
REFLEKSI - Seminar nasional lustrum ke-8 ISI Yogyakarta pada Kamis (6/6/2024)
REFLEKSI - Seminar nasional lustrum ke-8 ISI Yogyakarta pada Kamis (6/6/2024)

 

RADAR JOGJA - Problem seni hari ini adalah tanpa batas dan tepi. Mestinya religi menjadi pendulum seluruh aktivitas di tengah praktik seni dan pemikiran seni.


Gagasan itu disampaikan oleh Ketua Panitia Lustrum 8 ISI Yogyakarta Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum. dalam seminar nasional lustrum ke-8 ISI Yogyakarta pada Kamis (6/6/2024). "Di tengah praktik seni dan pemikiran seni, religi menjadi pendulum seluruh aktivitas," kata Suwarno.


Dia menjelaskan, religi adalah praktik spritualitas. Artinya dalam konteks ini, seni berorentasi pada nilai-nilai religiusitas. "Kita harus menyadari kita berada di tengah keberagaman atau prularitas. Syaratnya tidak hanya toleransi tapi menghargai, dan melindungi," ucapnya.


Lalu keadaban, satu nilai yang sering belakangan sering dipertanyakan. Menjadi tugas akademisi, untuk memberikan kontribusi komplit mengenai problem seni. "Mungkin ini saatnya ISI menuju ke sana," ujarnya.


Apakah praktik seni dan pemikiran seni sekarang sudah melampaui batas? Kata dia, sejauh berada dalam koridor baru, petualangan astetik, artistik, lalu berfungsi pada nilai-nilai kemanusiaan dan ekologi kehidupan."Seni harus bertumpu pada kesadaran religiusitas. Kalau tidak dia akan terputus dengan nilai-nilai masyarakat dan individu," tegasnya.


Sementara itu, salah satu narasumber seminar Lustrum 8 ISI Yogyakarta Dr. L.G. Saraswati Putri, S.S., M.Hum., mengaku banyak menulis terkait tema sosial, budaya, dan politik.
"Juga terlibat dalam gerakan konser amal dan koin sastra untuk penyelamatan Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin," kata Saraswati.


Perempuan yang akrab disapa Sarasdewi ini aktif dalam media sosial. Membantu menyuarakan kesadaran akan peran seni sastra. "Pada 2014, bersama Walhi dan beberapa artis lokal Bali sama-sama memperjuangkan penolakan reklamasi kawasan hijau Benoa," ujarnya. (gun/pra)

 

Editor : Satria Pradika
#Praktik #Pendidikan #religi #Seni #ISI Yogyakarta