Oleh : Elisabeth Dwi Astuti (tim psikoedukasi Fakultas Psikologi, Magister Psikologi Sains, UK Maranatha)
BERAGAM penelitian terkait remaja menunjukkan bahwa salah satu masalah yang dialami oleh remaja adalah penilaian diri terhadap keberhargaan dirinya (self-esteem) yang rendah. Masalah self-esteem yang rendah ini terlihat dari kata-kata yang digunakan oleh anak remaja dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya ketika menghadapi situasi yang dinilai sebagai kegagalan.
Kata-kata seperti,”Aku ga mungkin bisa”, “Ga ada teman yang menyukaiku”, “Aku ga menarik”, bukanlah kata-kata yang asing. Walau ini terlihat seperti masalah yang biasa, namun penelitian di bidang psikologi perkembangan dan keluarga menunjukkan bahwa masalah self-esteem yang rendah ini dapat berdampak besar pada pengelolaan potensi dan regulasi diri remaja di masa dewasa. Individu yang memiliki self-esteem rendah cenderung mengalami kendala lebih besar dalam proses pengembangan diri, relasi sosial dan kepatuhan pada norma/aturan. Oleh karena itu, permasalahan self-esteem ini tidak dapat dipandang sebelah mata.
Masalah di atas menarik perhatian mahasiswa Fakultas Psikologi, Program Studi Magister Psikologi Sains Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Beberapa mahasiswa calon ilmuwan psikologi tersebut diterjunkan ke komunitas untuk mengolah isu di atas. Praktik lapangan ini merupakan bagian dari pembelajaran Psikoedukasi Keluarga Magister Psikologi Sains Universitas Kristen Maranatha. Keprihatinan tersebut ditanggapi secara positif oleh para guru dari SMP St. Aloysius, Turi – Sleman. Kepedulian para pendidik di SMP St. Aloysius tersebut mendorong terselenggaranya kegiatan psikoedukasi pada Jumat, 24 November 2023 dengan tema ,”Dear me, I’m ready to glow”.
Kegiatan psikoedukasi ini membuka kesadaran siswa remaja mengenai masalah self-esteem rendah yang mereka hadapi, dampaknya bagi proses pengembangan diri mereka, dan gambaran profil remaja yang memiliki self-esteem positif. Melalui model pembelajaran experiential learning yang dikembangkan dalam proses psikoedukasi tersebut, siswa belajar melatih keterampilan mengolah penilaian diri sendiri yang cenderung negatif. Salah satu cara yang dilatih untuk menangkal penilaian diri sendiri yang negatif adalah dengan melatih siswa memaknai peristiwa dan penilaian orang lain yang dipersepsikan negatif secara objektif. Mereka berlatih membuat “magic words”, yaitu kata-kata berisi afirmasi positif yang membantu mereka menilai secara objektif peristiwa yang kerap dipersepsikan secara negatif. Selain itu, siswa juga berlatih mengembangkan iklim positif di antara teman sebaya dengan saling memberi apresiasi pada kelebihan atau usaha yang telah dilakukan oleh teman. Siswa juga dilatih untuk mengembangkan kesadaran mengenai kebermaknaan hidupnya melalui proses merancang tujuan jangka pendek.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari para siswa. Mereka mampu mengidentifikasi secara spesifik area penilaian diri yang perlu diolah. Sebagian besar dari mereka mengidentifikasi diri memiliki masalah di area performance self-esteem, yaitu penilaian diri mengenai kompetensi dan kemampuan diri (48%). Sebagian lainnya mengidentifikasi diri memiliki masalah di area social self-esteem, yaitu penilaian diri yang terkait dengan penilaian orang lain dalam relasi sosialnya (39%). Sebagian kecil lainnya mengidentifikasi diri memiliki masalah di area physical self-esteem, yaitu penilaian diri terkait kondisi fisik (13%).
Respon positif juga datang dari pihak sekolah. Ibu Agnes Natalia Endry K., M.Pd., selaku kepala sekolah SMP St.Aloysius, Turi menyampaikan,”Pengolahan aspek psikologis siswa merupakan salah satu hal yang sangat membantu proses belajar dan tumbuh kembang siswa”. Sebagai sekolah berasrama, sekolah ini berperan besar dalam pembentukan mental dan karakter siswa. Kegiatan psikoedukasi ini memperlengkapi tim pendamping dan guru dalam mendampingi para siswa yang tinggal jauh dari orang tua. (ila)
Editor : Reren Indranila