Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Film Pendek 'Masih Tanda Tanya' Terinspirasi Kisah Sesama Difabel

Wulan Yanuarwati • Jumat, 18 Agustus 2023 | 18:20 WIB
Tuna Netra Mahasiswi UGM Sukses Sutradarai Film Pendek.
Tuna Netra Mahasiswi UGM Sukses Sutradarai Film Pendek.

RADAR JOGJA - Keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas netra tidak membuat Aulia Rachmi Kurnia membatasi diri dalam berkarya. Mahasiswi Departemen Sastra Indonesia UGM Jogja ini berhasil mensutradari film pendek.


Pada 2023, Aulia mensutradari Film pendek berjudul Masih Tanda Tanya. Ditayangkan perdana pada bulan Maret 2023 lalu dan telah diputar di berbagai komunitas pencinta film tanah air.“Kesulitan ya pasti ada karena keterbatasan visual. Namun, sangat terbantu ada asisten sutradara yang bisa menjadi 'mata' saya dan team work yang luar biasa selama produksi film,” jelasnya, Kamis (17/8/2023).


Film Masih Tanda Tanya merupakan film pertama yang disutradari Aulia. Arahan tangan Aulia menentukan para pemain agar berakting sesuai karakter yang diperankan. Dan memastikan semua berjalan sesuai rencana dari awal hingga akhir produksi.


Film berdurasi 40 menit ini berkisah tentang sepasang kekasih. Diceritakan laki-laki dalam film merupakan penyandang disabilitas netra. Cinta diuji dengan perbedaan fisik yang kemudian munculnya orang ketiga. Meski menampilkan percintaan dua remaja dengan perbedaan fisik namun film ini juga mengungkap sejumlah isu disabilitas.“Film ini terinspirasi dari kisah teman yang juga disabilitas netra,” ujarnya.


Sebelumnya, pada 2021 Aulia sempat terlibat dalam produksi film Seutas Asa. Ia didapuk menjadi salah satu pemain dalam film yang juga dibuat oleh temannya, yang juga penyandang disabilitas netra.


Kemudian pada 2022, Aulia memberanikan diri mengikuti kelas film. Pada saat itu, dia bergabung bersama lima rekannya yang juga penyandang disabilitas netra. Mereka iseng mengikuti kelas tersebut dan sempat dipandang sebelah mata. Sebab, dalam berkarya dituntut memproduksi karya yang identik dengan visual. “Saat itu tutornya sempat bingung juga, kenapa difabel netra ikut kelas film. Namun akhirnya justru mendukung karena melihat kami semangat dan menjadi mentor kami sekarang ini,” jelasnya.


Aulia tidak pernah menyangka bisa menjadi sutradara film pendek. Tak pernah terfikirkan olehnya bisa menjadi sutradara di tengah keterbatasan visualnya. Baginya, kesempatan menjadi sutradara menjadi pengalaman sangat berharga. “Saya belajar bagaimana proses syuting, belajar manajemen pra hingga pascaproduksi. Belajar matengin naskah, pengambilan gambar dan juga kerja tim,” jelasnya.


Tidak berhenti di situ, Aula akan terus berkarya. Dia berencana menulis naskah film dengan tema menyuarakan inklusi khususnya disabilitas melalui film. Ia berharap bisa menginspirasi banyak orang, terutama bagi difabel. Agar tidak takut untuk mengembangkan diri dan berkarya. “Jangan berhenti berkarya. Sebab, berkarya itu tidak mengenal golongan, disabilitas atau bukan. Selagi ada niat kita bisa berkreasi dan yakinlah ada orang-orang yang akan mendukung kita,” jelasnya. (lan/pra)

Editor : Satria Pradika
#UGM #film pendek #Difabel