Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Salam Pramuka! Begini Sejarah Pramuka yang Perlu Kalian Tahu

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 15 Agustus 2023 | 21:04 WIB
Foto Ilustrasi Pramuka. (Pramuka Update)
Foto Ilustrasi Pramuka. (Pramuka Update)
 
 
RADAR JOGJA - Saban tahun, masyarakat  Indonesia memperingati 14 Agustus sebagai Hari Pramuka. Pramuka kepanjangan dari Praja Muda Karana. Gerakan Pramuka memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa. Karena menjadi rantai munculnya Pergerakan Nasional.  
 
Lalu, bagaimana sejarah pramuka itu jauh sebelum di kenal di Indonesia. Berikut Radar Jogja merangkumnya.
 
 
Lebih Dulu Dikenal Boy Scout
 
Jauh sebelum Gerakan Pramuka di Indonesia berdiri, organisasi kepanduan lebih dulu lahir di Inggris. Namanya boy scout, lahir pada tahun 1907 oleh Sir Robert Baden-Powell. Boy scout merupakan gerakan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan karakter anak-anak dan remaja. Selain itu untuk melatih mereka bertanggung jawab di masa dewasa nanti. 
 
Dihimpun dari buku berjudul Boyman karya Andri Bob Sunardi cetakan 2013 disebutkan, organisasi kepanduan ini berisi program dasar yang diilhami dua organisasi remaja. Pertama, Sons of Daniel Boone  yang didirikan oleh Daniel Carter Beard seorang naturalis-illustrator.  Kedua, gerakan Woodcraft Indian yang dipelopori Ernest Thompson Seton, merupakan seorang penulis Inggris kelahiran Kanada.  
 
Dari dua gerakan itu, kepanduan semakin berkembang pesat di 140 negara di dunia. Organisasi kepanduan internasional ini biasa bertemu dua tahun sekali dalam Boys Scouts World Conference. Sementara sekretariat organisasi berada di Jenewa, Swizerland. Kemudian kegiatan jambore saat itu digelar empat tahun sekali.
 
 
Baca Juga: Persiapan sejak Sekarang, MAN 2 Jogja Bekali Siswa Sukses Tembus PTN 2024
 
Sejak terbentuk di Inggris itu, pada 1910, organisasi kepanduan muncul di Amerika Serikat. Gerakan kepanduan tidak bersekte dan tidka mempunyai hubungan khusus dengan dinas militer ataupun kepentingan politik tertentu. 
 
Organisasi kepanduan banyak menghabiskan waktunya di alam terbuka. Berkemah menjadi program tetap dalam organisasi kepanduan tersebut. Di dalam program ini juga terkait konservasi alam, kehutanan, pertanian, aksi sosial dan bhakti kepada masyarakat. Sebagai contoh, the boy scouts berpartisipasi dalam banyak kegiatan sipil selama Perang Dunia ke II (1939-1945).
 
Tak hanya itu kepanduan juga mengajarkan tentang keterampilan dan pengetahuan tentang flora dan fauna, ilmu berenang, pertolongan pertama, bersemboyan dan lainnya. "Be prepared", selalu siap adalah motto seorang pandu. 
 
Kepanduan Masuk di Indonesia
 
Kepanduan masuk di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Jauh sebelum Indonesia merdek, tepatnya saat Hindia Belanda. Kepanduan, pertama-tama dibawa orang Belanda dalam organisasi bernama Nederland Indische Padvinders Vereniging (NIPV) yang artinya persatuan pandu-pandu Hindia Belanda (Indonesia sekarang)
 
Organisasi tersebut diterima oleh bangsa ini, sebagai wadah remaja dan pemuda yang dapat menampung aspirasi terhadap tanah air ini. 
 
Karena Kolonial Belanda khawatir dengan keterlibatan penduduk lokal, kemudian Pemerintah Belanda melarang mengikuti kegiatan NIPV. Hingga berdirilah organisasi kepanduan yang didirikan secara nasionalisme. Organisasi kepanduan nasional pertama kalinya didirikan pada 1916, bernama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) atas prakarsa  Sultan Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta.
 
Pendirian organisasi kepanduan nasional itu merupakan buah perjuangan panjang yang turut berperan dalam mencapai kemerdekaan. Dengan tonggak kebangkitan Bangsa Indonesia dengan ditandai berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Laku juga Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dua organisasi itu semakin memperkuat  kepanduan nasional bergerak maju.
 
 Baca Juga: Mahasiswa UNY Diminta Berjalan Sedikit Membungkuk saat Melewati Orang Yang LebihTua
 
 
Istilah "Pandu" dan Kepanduan
 
Pertama kali dikemukakan dalam kongres SIAP tahun 1928 oleh Kiai Haji Agus Salim di Kota Banjarnegara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 
 
Peristiwa bersejarah terjadi pada saat Baden Powell berkunjung ke Hindia Belanda pada 3 Desember 1934. Hal ini berdampak baik bagi perkembangan kepanduan tanah air. 
 
Pada 1937, pertama kalinya Pandu di Indonesia mengikuti Jambore Dunia V di  Volegenzang, Belanda. 
 
Pada zaman pendudukan penjajah Jepang, organisasi kepanduan dilarang dan semua organisasi kepanduan harus bergabung dengan organisasi kepanduan bentukan Jepang. 
 
Kemudian, pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, berdiri kepanduan yang berjumlah lebih dari 100 organisasi, yang tergabung dalam tiga federasi. Yaitu, Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) pada 13 September 1951. Lalu Persatuan Organisasi Pandu Puteri (POPPINDO) pada 1954 dan Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI).
 
Nah, pasca itu, pertama kalinya diselenggarakan Jambore Nasional Kepanduan Pertama, sebelum kata pandu berubah menjadi pramuka. Jambore ini digelar pada 1955 di Pasar Minggu Jakarta.
 
Ketiga federasi itu bergabung menjadi satu. Hingga pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No 238/61 tentang Gerakan Pramuka. Kepres tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri RI saat itu Ir H Juanda, yang mewakili Presiden Soekarno karena pada saat itu sedanga ada kunjungan kenegaraan ke Negeri Sakura.
 
Baca Juga: Konferensi Internasional Ke-4 Journal of Government and Politics di UMY
 
Gerakan Pramuka di Indonesia kemudian dikukuhkan pada ketetapan MPRS No II/MPRS/1960. Pada 9 Maret 1961, Presiden Soekarno mengamanatkan kepada pimpinan pandu di Istana Merdeka untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam kepanduan bangsa.
 
Pada tahun itu juga Gerakan Pramuka disimbolkan dengan lambang tunas kelapa. Hal ini disahkan dalam Kepres No 238 tahun 1961. Nah, pada 14 Agustus 1961, lahirlah gerakan pramuka yang dikenalkan kepada masyarakat. Pasca Presiden Soekarno menganugrahkan panji gerakan pramuka dengan Kepres No 448 1961. 
 
Hingga sekarang kegiatan Pramuka masih berjalan. Bahkan, di beberapa sekolah menempatkan kegiatan pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib bagi siswa baru di awal tahun ajaran.  Gerakan Pramuka memiliki tingkatan tertentu berdasarkan tingkat sekolah atau usia. Ada Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega. (mel)
 
Baca Juga: Bawakan Ratoeh Jaroe, Tim Tari Mu'allimaat Jogja Raih Medali Emas di Korea Selatan
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Pramuka #gerakan pramuka #Kepanduan #hindia belanda #Pandu #Indonesia