Bagaimana Research Bootcamp dan Research Partnership Membuka Akses Pelajar ke Dunia Sains

Pengalaman riset tidak harus menunggu bangku kuliah. Melalui pembelajaran berbasis penelitian dan kolaborasi akademik, pelajar dapat mengenal proses ilmiah, mengeksplorasi teknologi, dan mengembangkan gagasan sejak sekolah menengah.
Riset sains kerap diasosiasikan dengan perguruan tinggi dan laboratorium profesional. Padahal, proses penelitian dapat diperkenalkan lebih awal melalui pengalaman belajar yang tepat. Pelajar dapat mulai memahami cara merumuskan pertanyaan, mencari bukti, menguji gagasan, dan menyampaikan hasil secara sistematis.
Hal ini semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, nanoteknologi, dan robotika. Untuk mengenal bidang-bidang tersebut, pelajar tidak cukup hanya mempelajari teori di kelas. Mereka juga perlu berinteraksi dengan akademisi, mengenal fasilitas laboratorium, dan mencoba mengembangkan proyek ilmiah.
Fumalife menghadirkan Research Bootcamp dan Research Partnership untuk mendekatkan proses penelitian dengan pengalaman belajar sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik.
Baca Juga: Menggugah Selera, Ini Lima Jenis Seafood yang Lezat Dimakan Mentah Beserta Tips Mengolahnya
Melalui layanan Science Research Camp, Fumalife menggabungkan pembelajaran konseptual, praktik, diskusi dengan mentor, dan pengembangan proyek. Peserta diajak mengenal tahapan penelitian, mulai dari identifikasi masalah dan pencarian referensi hingga pengujian gagasan, analisis, serta komunikasi ilmiah. Program ini juga dapat membantu pelajar mengeksplorasi minat sebelum menentukan pilihan pendidikan lebih lanjut.
Salah satu penerapannya adalah Science Research Camp (SRC) 2026, yang diselenggarakan Fumalife Research Academybersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM).
“Melalui SRC 2026, kami ingin membuktikan bahwa riset ilmiah bukan sekadar konsumsi mahasiswa, melainkan bisa dimulai sejak sekolah menengah. Dengan terjun langsung ke laboratorium kampus, para peserta tidak hanya memahami sains secara mendalam, tetapi juga terbiasa berpikir kritis dan solutif. Kami berharap pengalaman ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya para peneliti muda Indonesia,” ujar CEO & Founder Fumalife Hanif Khoirudin, S.Si., M.Sc.
SRC 2026 mempertemukan pelajar SMA dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia dalam tiga bidang pembelajaran: AI and Cybersecurity, Nanomaterials and Nanotechnology, serta Robotics and Instrumentation. Kegiatannya meliputi kuliah umum, demonstrasi eksperimen, pengenalan keselamatan kerja laboratorium, tur laboratorium, dan sesi bersama dosen serta mentor.
Peserta juga memperoleh kesempatan belajar dari akademisi dengan bidang keahlian yang beragam. Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. berbagi perspektif penelitian nanomaterial dan teknologi sensor; Rifki Afina Putri, S.T., M.S., Ph.D. terlibat dalam bidang kecerdasan artifisial dengan kepakaran pemrosesan bahasa alami; sedangkan Dr. Oskar Natan dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM mendukung bidang robotika dan sistem otonom.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




