RADAR JOGJA – Prestasi tingkat nasional kembali diraih siswa SMPN 5 Jogjakarta (Pawitikra). Kali ini, Evelyne Dyah Pradnya Paramita meraih Gold Medal in History. Raihan tersebut direbut dalam Lomba Peneliti Belia Nasional 2021 yang diselenggarakan Center for Young Scientist (CYS).

Pada tingkat final, Evy (sapaan Evelyne Dyah Pradnya Paramita) menyisihkan 12 peserta bidang sejarah yang semuanya merupakan siswa SMA. Evy satu-satunya siswa SMP. Dia menjadi peneliti tunggal dalam ajang tersebut.

Evy, melakukan penelitian dengan judul Studi Historiografi dan Kehidupan Juru Kunci di Makam Raja-Raja di Imogiri. Siswa kelas 9E Pawitikra tersebut melakukan riset dengan meneliti sejarah dan ritual di makam raja-raja di Imogiri dalam memengaruhi filosofi kehidupan para juru kunci dan masyarakat sekitar.

‘’Saya meneliti seperti apa sejarah makam raja-raja di Imogiri, ritual apa saja yang dilakukan, dan filosofi apa yang dianut para juru kunci,’’ ujar Evy.

Dia ingin menarasikan sejarah dan pengaruhnya pada kehidupan sosial budaya saat ini. ‘’Saya ingin mendeskripsikan ritual yang ada, dan menginterpretasikan filosofi kehidupan juru kunci,’’ katanya.

Dia berharap penelitiannya bisa menambah literatur kesejarahan bagi para peneliti, dan meningkatkan pengetahuan peneliti. ‘’Saya melakukan studi pustaka, seperti ritual di makam raja-raja di Imogiri. Di antaranya nyekar, mubeng beteng, nyadran, dan nguras enceh yang mengandung nilai-nilai luhur yang disebut filosofi. Ritual dilakukan oleh abdi dalem sebagai pengabdi budaya.’’

Pendekatan penelitian Evy adalah naratif kualitatif. Data dikumpulkan dari wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Data dianalisis dengan tahapan heuristik, verifikasi, dan interpretasi, narasi.

Informan penelitian merupakan para juru kunci dan pensiunan juru kunci di makam raja-raja di Imogiri. Penelitian dilakukan 27 Agustus 2021 sampai 4 September 2021.

‘’Saat melakukan penelitian, terkuak bahwa para abdi dalem mengembangkan nilai-nilai filosofis dari meneladani sejarah dan ritual makam raja-raja di Imogiri. Keteladanan kepahlawanan di antaranya diperoleh dari Sultan Agung dan rendah hati dari Sultan Hamengku Buwono IX,’’ ujar Evy.

Nilai mawas diri, kebersihan, penghormatan pada leluhur, dan syukur dipengaruhi oleh ritual mubeng beteng, nyadran, nyekar, dan nguras enceh. ‘’Dengan nama dan status priyayi yang disandang, para juru kunci dituntut bersikap dan berperilaku terpuji,’’ katanya.

Dari hasil penelitian Evy, menjadi juru kunci adalah bentuk pengabdian budaya untuk meneladani dan melestarikan nilai-nilai luhur para raja seperti kepahlawanan dan kerendahan hati. Dalam filosofi juru kunci ini disebut ngalap berkah.

‘’Sebagai priyayi dengan nama pemberian raja, para juru kunci harus berperilaku dengan tata krama dan bertutur dengan tata bahasa yang baik. Selain itu, sebagai abdi dalem, para juru kunci juga mengembangkan sifat-sifat luhur dengan narimo ing pandum yaitu hidup ikhlas, sederhana, dan patuh.’’

Dari penelitian tersebut, Evy berhasil mengalahkan peserta lain dari seluruh Indonesia. Akhirnya, prestasi tertinggi Lomba Peneliti Belia Nasional 2021 bidang Sejarah berhasil diraih Evy. (iwa/dwi)

Pendidikan