RADAR JOGJA – Perpustakaan adalah jantungnya lembaga pendidikan. Karena itu, Kementerian Pertanian sangat mendukung keberadaan perpustakaan. Khususnya perpustakaan berbasis inklusi. Terlebih saat ini Perpusnas sedang ekspansi ke pelosok negeri untuk menggaungkan budaya literasi.

Dikenal dengan istilah perpustakaan berbasis inklusi sosial, Perpusnas bersama Pusat Perpustakaan dan penyebaran Teknologi Pertanian (Pustaka), serta Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan bimbingan literasi. Tujuannya mewujudkan masyarakat yang literate. Sekaligus meningkatkan minat baca dan mengenalkan pertanian kepada generasi muda dan masyarakat.

Hal ini selaras dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. “Literasi modern sangat penting dalam mendukung pertanian yang mandiri maju dan modern,” katanya.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menyampaikan hal serupa.

Menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa lepas dari dunia literasi. “Literasi tidak hanya membaca atau menulis. Tetapi bagaimana kita mengolah dan mengomunikasikan hasil pembelajaran tersebut sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.

Dedi menegaskan, hasil pembelajaran yang diolah secara bijak, kreatif, kritis, serta berdasarkan kultur dan kognitif akan menghasilkan produk-produk yang akan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan pertanian di lapangan.

Mendampingi kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus, Kepala Bidang Perpustakaan Pustaka Kementan Riko Bintari melaksanakan kegiatan di tiga kecamatan wilayah Kabupaten Magelang. Yakni Srumbung, Ngablak, dan Sawangan.

Untuk memperkaya koleksi perpustakaan, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang (YoMa) kampus Magelang mendapatkan hibah buku dan digital book dari Pustaka Bogor. “Dengan adanya perpustakaan berbasis inklusi sosial ini diharapkan peningkatan kunjungan perpustakaan yang mencerminkan peningkatan akses dan pelayanan informasi pertanian sebagai tujuan inisiatif inovasi,” ungkap Riko.

Selain itu, petani penyuluh mitra industry agropreneur dan praktisi pertanian aktif terlibat sesuai. “Harapannya, agar program perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat menukik dan bersentuhan langsung dengan sasaran,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, Riko juga mengapresiasi keberadaan perpustakaan Kampus Magelang Polbangtan YoMa yang mulai berbenah dan meningkatkan pelayanan.

Dia pun mengharapkan bantuan dan dukungan Polbangtan YoMa untuk berperan aktif mengembangkan perpustakaan pertanian berbasis inklusi sosial di wilayah Kabupaten Magelang.(*/yog)

Pendidikan