RADAR JOGJA – Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji meminta lingkungan pendidikan mengutamakan penerapan protokol kesehatan. Apabila memiliki gejala Covid-19, wajib untuk tidak datang ke sekolah. Pernyataan ini guna menanggapi munculnya kasus Covid-19 di salah satu SD di Sedayu Bantul dan salah satu SMP di Pakem Sleman.

Berdasarkan catatan Disdikpora Bantul kasus Covid-19 muncul di SDN Sukoharjo, Argodadi Sedayu Bantul. Total ada 8 siswa dan seorang guru yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara di SMPN 2 Pakem Sleman, ada 1 siswa terpapar Covid-19.

“Maka kepada para guru mohon selalu perhatikan kesehatabnnya. Kalau ada gejala tidak usah berangkat ke sekolah. Kalau sudah positif maka isolasi, baik isoter maupun isolman, kalau negatif ya menyembuhkan penyakitnya dulu,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (25/10).

Pesan yang sama juga dia tujukan kepada orangtua siswa. Agar rajin-rajin mengecek kesehatan anaknya sebelum berangkat sekolah. Apabila menunjukan gejala demam, batuk dan pilek untuk beristirahat di rumah terlebih dahulu.

Aji menegaskan tidak sanksi apabila memilih istirahat di rumah. Terlebih jika menunjukan gejala terpapar Covid-19. Cara ini lebih baik sebagai upaya mengantisipasi penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

“Ortu lakukan pengawasan, karena SD dan SMP kan belum vaksin. Kalau anak ada panas, batuk atau pilek tidak masalah tidak berangkat dulu. Ini istimewa tidak ada sanksi yang tidak berangkat, agar tidak ada anak yang positif (Covid-19) sampai di sekolah,” katanya.

Dia meminta para guru yang telah menerima vaksin Covid-19 dua dosis tak menyepelekan. Paparan Covid-19 dengan kondisi telahb tervaksin tentu berbeda. Salah satunya adalah tak ada gejala atau perburukan kondisi kesehatan saat terpapar Covid-19.

“Vaksin 2 kali biasanya tidak nampak tak kan tetep gregesi (demam). Kalau kerasa itu supaya tidak berangkat ke sekolah. Antisipasi penularan Covid-19 di sekolah,” ujarnya.

Kemunculan kasus-kasus Covid-19 di sekolah tak berdampak pada pembelajaran tatap muka (PTM). Skema ini tetap berlaku di Jogjakarta. Ini karena paparan Covid-19 di lingkungan sekolah tidak berlangsung dalam skala besar.

Walau begitu, Aji mengijinkan Dinas Pendidikan setempat melakukan tindakan. Termasuk penutupan PTM sementara waktu. Tujuannya untuk melakukan tracing kasus maupun menghentikan masa inkubasi Covid-19.

“Evaluasi dari Disdikpora provinsi, PTM terbatas berjalan lancar. PTM tetap lanjut karena angka penambahan kasus tidak signifikan,” katanya. (dwi)

Pendidikan