RADAR JOGJA – Pembelajaran membaca, menulis, berhitung (calistung) sambut hari pertama beberapa siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) tatap muka di sekolah. Mereka antusias mengikuti KBM yang diperagakan guru.

Kepala SD Negeri Bangunrejo 2 Kota Jogja, Subagya mengatakan dari delapan siswa ABK kelas 1, diantara 4 anak penyandang slow learner yang mengikuti KBM tatap muka tersebut. Mereka mengalami lamban belajar, terampil, dan lamban memahami. Sehingga dibutuhkan pemahaman materi secara langsung.
Sekolah tatap muka ini juga atas persetujuan orang tua. “Antusias dari anak-anak senang tadi, seperti terlalu seru,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (12/10).

Guru Kelas 1 SDN Bangunrejo 2 Kota Jogja, Mujiyati menjelaskan pembelajarannya dikonsep yang menyenangkan. Guru menggunakan media kartu untuk memperkenalkan satu persatu huruf kepada siswa. Sehingga ini diklaim akan mudah ditangkap oleh anak-anak. “Tadi saya pakai alat peraga, kan lebih mengena secara langsung jadi anak-anak bermain sambil belajar,” ujarnya.

Pembelajaran tatap muka di sekolah inklusi ini dilaksanakan sangat terbatas. Khusus pembelajaran calistung ini untuk kelas 1, hanya satu jam pelajaran dari pukul 08.00-09.00. Dan tidak meninggalkan protokol kesehatan selama pembelajaran. “Jadi selama pandemi kemarin lewat daring, tugas-tugasnya juga lewat situ. Tatap muka baru sekarang,” jelasnya.

Dia tidak menampik, selama pembelajaran daring anak-anak kesulitan menerima pemahaman materi dari guru. Tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tergantung pada orang tuanya. Terlebih, untuk para ABK ini terutama di kelas satu yang mengalami kesulitan lamban belajar. “Itu harus diulang-ulang 3-5 kali beda dengan yang (siswa) reguler. Jadi memang harus betul-betul ekstra gurunya,”terangnya.

Kendati begitu, sebagai sekolah inklusi materi pembelajaran yang diberikan sama dengan siswa yang reguler. Justru siswa reguler atau yang sudah lebih dulu paham, akan menjadi tutor sebaya ABK yang belum paham untuk mengenal huruf. Pengelompokkan siswanya pun tidak terpisah-pisah. “Ada siswa yang sudah bisa paham dan belum dicampur, tidak trus pintar semua kita pisah, tidak begitu. Tidak ada perbedaan antara reguler dan ABK, biar sosialisasinya juga mengena,” tambahnya.

Materi yang disampaikan terutama calistung ini guru membuat sendiri. Sehingga tidak mengacu pada buku-buku reguler seperti sekolah reguler pada umumnya. Namun, tema per temanya dibuat sesuaikan dengan tingkatan siswanya. Pembelajaran calistung ini diberikan siswa kelas 1-3. “Karena ABK kan tidak bisa 100 persen langsung lancar. Saya buat materinya dengan melihat perkembangan ABK. Kelas 1 tidak harus mengejar target kurikulum, tapi yang penting difokuskan ke calistung,” tambahnya. (wia/bah)

Pendidikan