RADAR JOGJA – Pimpinan Pusat Mummadiyah (PP Muhammadiyah) menjawab tantangan dunia pendidikan dengan berdirinya Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu). Langkah ini sekaligus menguatkan langkah di tengah revolusi 4.0. Memanfaatkan celah kemajuan tekonlogi informasi dalam dunia pendidikan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menuturkan ada alasan kuat atas berdirinya Universitas Sibermu. Pertama, untuk mengisi ruang yang dibuka dunia tentang revolusi 4.0. Menurutnya era revolusi tak cukup berbicara tentang retorika dan teori akademi semata.

“Perlu diwujudkan dengan membuka lembaga sosial termasuk institusi pendidikan. Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai salah satu perwujudkan skema pendidikan,” jelasnya ditemui di Kantor PP Muhammadiyah, Rabu (6/10).

Haedar memandang rakyat Indonesia sangatlah melek teknologi informasi. Sayangnya pemanfaatan fasilitas ini belumlah maksimal. Lebih cenderung ke arah konsumtif daripada produktif.

Dia mencontohkan penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Walau tidak mendominasi, tapi tetap ada ke arah konsumtif. Padahal pemanfaatan teknologi informasi juga bisa menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kehadiran media sosial tidak boleh menggilas kita sebagai bangsa, tapi harus jadi aktor yang bisa mengelola perubahan itu. Terutama di era modern ini. Mengajak masyarakat bermedia sosial yang produktif dan tidak konsumtif,” katanya.

Secara gamblang dia membeberkan posisi Indonesia di peringkat ASEAN. Saat ini menduduki peringkat 7 untuk katefori daya saing. Sementara untuk indeks pemberdayaan sumber daya manusia berada di peringkat enam.

“Masih dibawah SIngapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina dan Brunei Darusalam. Sehingga harus akselesrasi agar kualitas masyarakat meningkat dan cerdas,” ujarnya.

Semangat kearifan lokal Indonesia, diakui olehnya sangat terkenal di dunia. Hanya saja bekal ini tidaklah cukup untuk bersaing di dunia internasional. Pembekalan sumber daya manusia dalam dunia pendidikan tidak kalah penting.

Disatu sisi Haedar mengakui tak mudah untuk meningkatkan kualiatas pendidikan. Dinamika yang tinggi, membuat waktu terbuang. Sehingga untuk meluangkan waktu mengenyam pendidikan secara fisik tidaklah optimal.

“Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan rasa hormat bangsa kita masih merayap lambat. Terutama dalam hal menguasai iptek, berpikir yang maju dan berpikir komunal. Namun untuk praktek guyub rukun memang sudah hebat. Tapi untuk maju melompat bersaing dengan bangsa lain perlu ada akselerasi,” katanya.

Universitas Sibermu sendiri telah mendapatkan ijin operasional dari Kemendikbud dan Ristek. Tertuang dalam Surat Nomor 430/E/0/2021 melengkapi ijin prinsip yang telah dimiliki sebelumnya. Kampus dengan konsep gabungan daring dan luring ini memiliki enam program studi. Diantaranya Teknologi Informasi, Sitem Informasi, Hukum, Administrasi Kesehatan, Akutansi dan Manajemen.

“Semoga dengan hadirnya SIbermu dalam menjawab tatangan revolusi 4.0 ini,” harapnya.

Plt Kepala LL Dikti Wilayah V Bhimo Widyo Andoko menyambut positif hadirnya Universitas Sibermu. Mengusung konsep universitas siber, menurutnya adalah strategi yang cerdas. Apalagi metode pendidikan ini bisa diakses berbagai wilayah di Indonesia.

Luasnya jangkauan ini dapat menjadi pintu kemajuan era pendidikan di Indonesia. Tak hanya di ranah nasional tapi dunia. Ini karena jangkauan dengan teknologi informasi sangatlah luas.

“Sudah mendukung Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di tingkat perguruan tinggi. Hadir pula sebagai agregator dan fasilitator pertukaran pelajar dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Berharap terus meningkatkan kualitas dengan terus tingkatkan sistem monitoring dan evaluasi,” katanya. (dwi)

Pendidikan