RADAR JOGJA – Sudah tiga hari PTMT berlangsung, antusias belajar siswa meningkat. Dibandingkan saat masih pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumah.

Diah Ayu Maharani misalnya, siswa kelas 6 SD Negeri Lempuyangwangi mengaku senang akhirnya sekolah tatap muka terealisasi meski masih secara terbatas. Pembelajaran di sekolah lebih terserap materinya, dan terlebih senang bisa belajar bersama teman-temannya. “Senang bisa ketemu teman-teman lagi, sama belajarnya bisa lebih paham,” katanya kepada Radar Jogja ditemui di sekolah  (22/9).

Rae sapaannya itu menjelaskan sudah tiga hari masuk sekolah, pembelajaran yang disampaikan guru tidak terlalu serius tetapi cukup menyenangkan. Hal ini yang dinilai membawa semangat baru untuk transisi atau penyesuaian dari PJJ ke sekolah luring. “Ya seru pembelajarannya, nggak yang langsung serius. Tadi belajar IPA pakai aplikasi jadi lebih paham terus senang ketawa-ketawa sama teman,” ujarnya disambut tawa.

Kekhawatirannya akan sebaran virus korona di lingkungan sekolah terbilang lebih kecil daripada jauh-jauh sebelumnya. Sebab, aspek kesiapan penunjang protokol kesehatan di sekolah cukup ketat. Pun perempuan 13 tahun itu juga sudah divaksin Covid-19. Hanya, ia merasakan perbedaan signifikan yang harus beradaptasi dengan kehidupan sekolah yang baru. “Perbedaannya banyak, biasanya ketemu teman-teman hanyak sekarang dibagi-bagi, istirahat juga sering makan bareng di kantin sekarang nggak ada. Duduknya juga sendiri-sendiri, setelah selesai sekolah juga harus langsung pulang,” jelasnya.

Orang tua siswa, Noka Wahyuni mengungkapan bersyukur anaknya telah kembali sekolah tatap muka. Selama PJJ, ia merasa terbebani tanggung jawab baru karena harus full memantau tiga anaknya sekaligus yang masih bersekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA. “Kalau udah masuk ke sekolah guru-guru lebih bisa  punya trik ya, supaya materi itu sampai di anaknya,” kata seorang ibu rumah tangga ditemui saat menjemput anaknya di SDN Lempuyangwangi.

Selama ketiga anaknya sekolah dengan metode PJJ, pekerjaannya bertambah. Seharusnya, ketika pagi bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga tetapi terbengkalai harus mempunyai tugas ganda. Belum lagi, anak-anaknya menjadi tidak fokus belajar karena banyak kendala seperti sinyal, berisik, banyak kendaraan lalu lalang dan sebagainya. “Saat ada uji coba (PTMT) itu saya udah sangat antusias akan kembali bersekolah. Tapi trus ada lonjakan batal lagi, pas masuk ini seneng akhirnya terealisasi,” jelas perempuan 40 tahun.

Meskipun perlu pengawasan lebih ketika sekolah dimasa pandemi. Prokes harus terjaga, anak setelah pulang tidak boleh ke mana-kemana, pun pengawasan ketika anaknya bermain ke luar rumah dan sebagainya. Hal ini tidak menjadi bebannya demi menjaga diri agar tidak terkena paparan Covid-19. “Saya selalu antar jemput anak, sampai rumah langsung bersih-bersih, cuci tangan, semua ganti baju dulu, baru kegiatan di rumah. Dan mereka sudah jarang main-main selama pandemi ini,” katanya yang menyebut ketiga anaknya sudah tervaksin semua.

Kepala SD Negeri Lempuyangwangi, Esti Kartini mengatakan capaian anak-anak dalam pembelajaran selama sekolah luring tiga hari kemarin sudah bisa diukur. Meski belum secara detail dalam prosentase, namun hasil capaian anak dalam menyerap materi pembelajaran lebih tinggi dibanding selama PJJ alias daring. “Capaian pembelajaran anak-anak lebih tinggi ketika tatap muka,” katanya.

Meski belum dilakukan evaluasi secara menyeluruh, tetapi bisa dilihat dari hasil nilai akhir pelajaran saat sekolah luring.  Setiap kali selesai pembelajaran di sekolah, guru-guru melaporkan hasil nilai dan capaian belajar anak. “Dari percakapan guru dan anak-anak alhamdulillah hasil secara penilaian yang diberikan diakhir pelajaran lebih bagus yang ini (tatap muka) dibanding daring,” ujarnya.

Menurutnya, ketika PJJ secara daring anak-anak memang mampu memahami konsep pelajaran yang disampaian oleh guru. Tetapi, ketika diberikan soal untuk mengerjakan hasil nilainya kurang maksimal. Ternyata anak-anak diklaim kesulitan menyerap materi ketika daring. Pun sudah ada interaksi dua arah lewat zoom, tetapi tidak ada interaksi secara intensif diantara keduanya. “Walaupun ada interaksi dua arah, tetap beda dengan tatap muka yang bisa mengulang penjelasan kalau ada anak kurang paham,” cetusnya.

Pasalnya, Jumat (24/9) PTMT akan berhenti sementara. Ini untuk dilakukan evaluasi secara menyeluruh selama menggelar PTMT Senin sampai Kamis untuk melihat capaian-capaian pembelajaran anak.

Anggota Forpi Kota Jogja, Baharuddin Kamba mengatakan dari hasil pemantauan selama tiga hari pelaksanaan PTMT ada beberapa catatan sebagai evaluasi serta rekomendasi. Antara lain pentingnya kejujuran dari siswa dan orang tua wali siswa terkait kondisi kesehatan anak. Apabila siswa sedang sakit, tidak perlu dipaksakan tetap berangkat ke sekolah. Pihak sekolah juga harus memastikan bahwa prosentase siswa yang telah divaksin sudah mencapai 80 persen lebih. Dikhawatirkan, siswa siswa kelas 5 dan 6 belum berumur 12 tahun sehingga belum divaksin. Tapi selama prokes tetap dijalan secara ketat dan anak tidak dalam keadaan sakit atau bergejala Covid-19, maka tidak masalah mengikuti PTMT. “Perlu diingatkan lagi bagi petugas yang mengukur suhu tubuh para tamu. Agar tetap mengecek suhu tubuh setiap tamu yang masuk ke sekolah. Jangan kendor,” katanya. (wia/pra)

Pendidikan