RADAR JOGJA – Tim Pengembang GeNose C19 Dian Kesuma Pramudya Nurputra memastikan GeNose C19 dapat membawa varian terbaru dari Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Ini karena mutasi virus ini tidak mengubah gen.

Artinya mutasi-mutasi yang terjadi tidak jauh berbeda dari Varian of Concern (VOC) yang telah ada. GeNose C19, lanjutnya, bisa mendeteksi varian D614G.

Begitupula atas kemunculan varian Covid-19 dari India dan Inggris. Walau begitu, pihaknya masih mencari sampel nafas pasien untuk menguatkan data.

“Kalau yang varian D416 G itu sudah dapat databasenya. Tapi yang (varian) India dan Inggris belum dapat pasiennya.

Tapi sepanjang sepengetahuan kami, mutasi tidak jauh berbeda jenis VOC-nya jadi masih bisa terbaca,” jelasnya ditemui di kampus UGM Jogjakarta, Minggu (23/5).

Dian menjelaskan tentang sistem pembaca varian Covid-19 di GeNose C19. Alat deteksi dini ini menggunakan nafas sebagai sampel uji. Ada beberapa indikator yang menjadi deteksi keberadaan virus.

Mutasi Covid-19 yang terjadi, lanjutnya, tidak mengubah gen. Artinya tidak mengganggu metabolisme sel dalam tubuh.

Mutasi lebih bersifat pada tingkat paparan kepada tubuh manusia. “Karena mutasi ini bukan pada gen dan tidak mengganggu metabolisme.

Kecuali mutasi membuat virus tidak masuk kedalam sel sehingga mengganggu dan mengubah sel, ini yang patut diwaspadai,” katanya.

Tim GeNose C19 sedang berupaya mendapatkan sampel pasien Covid-19 varian baru. Tujuannya untuk menguji dan menjadi data bagi GeNose C19. Pengujian dilakukan dengan pengambilan sampel nafas terhadap pasien.

Disatu sisi, diakui olehnya tak mudah mendapatkan sampel nafas pasien Covid-19. Pihaknya tetap harus mengikuti prosedur yang berlaku. Terlebih tujuannya sebagai penelitian dan pengembangan alat GeNose C19.

“Kami perlu mendapat akses di rumah sakit yang merawat pasien itu (Covid-19 varian baru). Untuk dapatkan sampel nafas, tentu dengan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

GeNose C19 sendiri terus melakukan pemutakhiran sistem artificial intelegent (AI). Terbaru adalah sistem 1.3.2 built 6. Fungsinya untuk perbaruan sistem dan menambahkan data unsur pendeteksi varian virus.

AI versi terbaru ini merupakan pengembangan dari versi sebelumnya, 1.3.2 built 5. Perubahan pertama adalah tampilan muka yang lebih sederhana. Paling utama adalah penambahan data hasil penelitian tim GeNose C19.

“Data ini yang kami himpun dari fasilitas kesehatan dan fasilitas publik. Termasuk validasi dari PCR itu masuk database pengembangan AI baru.

Kami injeksikan ke AI untuk mempertajam akurasi,” katanya. Dian menjanjikan udpate AI GeNose C19 berlangsung rutin.

Langkah ini seiring penelitian dan perbaruan data yang terus berjalan. Termasuk memperbaiki celah error penggunaan GeNose C19.

“Termasuk untuk membersihkan bug juga. Update cukup koneksi ke laptop yang terkoneksi internet lalu klik help dan check for update,” ujarnya.

Peneliti GeNose C19 Kuwat Triyana menuturkan tak hanya sebatas AI. Alat pendeteksi dini Covid-19 ini juga akan menjalani kalibrasi. Guna menyeragamkan hasil pembacaan setiap alat yang telah beredar di masyarakat.

“Kalibrasi itu masuknya sistem penjaminan mutu. Agar konsisten seragam antara satu mesin dengan lainnya.

Kami juga lakukan secara random, dari hasil di lapangan pakai sebagai feedback untuk penyempurnaan GeNose C19 kedepannya,” katanya.(dwi/sky)

Pendidikan