RADAR JOGJA- Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan keterbatasan fisik, psikis maupun kemampuan otak yang berbeda, sejatinya memiliki potensi. Hanya saja, cara mengasahnya memerlukan usaha yang tak biasa.

Di tengah pandemi, mendidik ABK dinilai cukup menantang, karena guru tak bisa terlibat langsung untuk menstimulasi. Sehingga peran orangtua begitu dibutuhkan.

Setiap anak terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangnan yang dimilikinya. Banyak orangtua bisa menerima kelebihan anak, namun sedikit diantara mereka yang sanggup mencintai kekurangan buah hatinya. Perlu jiwa basar untuk bisa menerima kekurangan anak dan menganggapnya semua itu sebagai suatu kelebihan.

Praktisi anak berkemampuan khusus (ABK), Tunjung Praharanin Trahtama Dewi mengatakan banyak faktor yang menyebabkan seorang anak akan terlahir dengan kebutuhan khusus, diantaranya faktor internal dan eksternal.

Faktor internal menurut Tunjung biasanya terjadi saat masa kehamilan, dimana ibu biasa mengkonsumsi alkohol dan rokok maupun narkoba. Faktor internal lain yang bisa mempengaruhi yakni keturunan maupun gen, serta pernikahan antara seorang pria dan perempuan masih memiliki hubungan sedarah.

Sedangkan faktor eksternal lebih dikarenakan lingkungan yang membuat ibu hamil merasa stress, cemas, depresi sehingga membuat batinnya tertekan. Bisa pula dipicu trauma kecelakaan, pendarahan maupun kehabisan air ketuban saat proses kelahiran.

Memperlakukan seorang ABK berbeda dengan merawat anak dalam kondisi normal. Seorang ABK akan sangat bergantung kepada orang yang ada di sekitarnya, terutama orangtua sehinggan perlu pendampingan secara intensif.

“ABK memerlukan penanganan dan pendampingan yang khusus juga, baik dari metode maupun media. Bahkan pola makan seorang ABK juga khusus jika dibandingkan anak pada umumnya, karena anak seperti ini rata-rata memiliki permasalahan pada sistem cernanya,” kata Tunjung dalam talkshow bertema ‘Yuk Pahami Anak Kita’ yang digelar di Lippo Plaza Senin (4/5).

Tunjung menambahkan, seorang ABG dapat menjadi anak normal asalkan dengan pendampingan malalui metode yang benar dari orangtua. Hal itu dapat intensif dilakukan saat anak berada pada ‘golden age’ yakni usia emas pertumbuhan mulai dari umur 0 – 5 tahun.

Beberapa metode yang dapat dilakukan diantaranya melakukak diet bagi anak, mengikuti terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan, dukungn perilaku positif, hingga modifikasi perilaku. Behaviour therapy atau terapi perilaku juga perlu dilakukan, konsistensi orangtua dalam berbagai hal dan yang peling utama yaitu kerjasama antar orangtua serta lingkungan.

Dengan mengetahui metode tersebut seorang anak dapat dapat tertangani dengan baik sehingga dapat keluar dari kebutuhan khususnya. Terpenting dari semua ini yakni bagaimana orangtua dapat menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seorang ABK serta mendampinginya dalam keseharian.

“Terima dulu keadaan anak dengan ikhlas, karena anak merupakan titipan dari-Nya. Jadilah orang tua yang pintar serta konsisten, karena keberhasilan anak bukanlah tanggungjawab seorang ahli, melainkan orangtua itu sendiri,” katanya.(sky)

Pendidikan