RADAR JOGJA- Kantor Pelatihan Bahasa dan Budaya Universitas Atma Jaya Yogyakarta (KPBB UAJY) menggelar Talkshow Kebudayaan “Culture Optimalization in Digital Area”, Sabtu (27/3). Talkshow tersebut menjadi salah satu rangkaian acara dari KPBB Fest #10 yang diadakansecara daring.

Rektor UAJY Yoyong Arfiadi, dalam sambutannya, “Raga dapat terkurung, gerak dapat terbatas. Tetapi, kreativitas dan pikiranbebasmenerawangtanpabatas,” ujarnya.

Yoyong menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung dan meningkatkan kesadaran pada pelestarian budaya.

“Kalau tidak kita, siapalagi yang bertanggungjawab. Jangansampaikitanantiterheran-heran jika budaya kita lambat laun hilang dan kita tiba-tiba menyadarinya pada posisi yang sudah sulit untuk mengembalikannya,” tambahnya.

Dosen Fakultas IlmuSosial dan IlmuPolitik UAJY  Desideria, menyampaikan bahwa dunia virtual adalahsebuah penggambaran spasial sebuah lingkungan virtual dengan harapan dunia tersebutbisadimaknai dan dialami oleh banyak peserta sekaligus yang diwakili oleh ikon pengganti sepertivirtual 3D dan virtual tour.

“Sekarang kita sedang mengarah keteknologi-teknologi yang berpusat pada manusia. Dari sisiculture, anak muda perlu mengembangkan yang disebut kompetensi budaya,” ujarnya.

Selain itu, anak muda juga harus meningkatkan kesadaran pada teknologi. Kedua hal tersebut diharapkan dapat dilakukan oleh anak muda dengan tujuan menyelaraskan budaya dengan teknologi.

GKR Hayu menyampaikan bahwa, budaya tidak akan bisa diambil oleh orang asing selama kita sebagai pemilik masih merawat budaya tersebut.

“Akses tentang kebudayaanituharusmudahdiakses,” ujarnya.

GKR Hayu sebagai Penghageng di Tepas TandhaYekti, Keraton  Jogjakarta mempunyai misi untuk menjaga kekayaan tradisi melalui pemanfaatan teknologi.

“Keberadaan digitalisasi membut Keraton Jogjakarta memilikiperpustakaan digital yang dapatmemuatberbagaimanuskrip digital. Tujuannyaadalah agar manuskripdapatterjagadenganbaik, dan di sisi lain manuskriptersebutdiharapkantetapbisadiakses oleh siapasaja,” jelasnya.

Tak hanya itu, digitalisasi juga membantu Keraton Jogjakarta untuk menyimpan foto seperti pementasan wayang. Pengambilan foto dengan karakter dan pose yang sesuaiharapannyabisamenggambarkanbagaimanakarakteraslidariwayang orang tersebut.

“Modernisasi bukan berarti westernisasi,” katanya dengan mengutip pesan  dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. (sce/sky)

Pendidikan