RADAR JOGJA – Jumlah anak muda dengan pemikiran ‘’ndeso’’ makin lama makin sedikit. Namun, dari semakin berkurangnya anak muda yang memikirkan bidang pertanian itu, muncul sosok Kiko, pria muda yang justru kembali ke tanah air dengan tekat mulia, mengembalikan kesejahteraan petani ke lapis atas. Agar pekerjaan mulia tersebut menjanjikan, tidak dilirik dengan sebelah mata.

Lama kuliah di Sydney, Australia. Di sana Kiko melihat bagaimana sampah dikelola dengan baik. Sehingga sampah masih bisa dimanfaatkan. ‘’Kalau mereka (orang Australia) bisa, kita juga bisa,’’ tegas founder at Project Wasteless tersebut di Teduh Coffee, Seturan, Jogja, Minggu.

Sekembalinya dari Sydney, pemilik nama lengkap Alexander Enrico itu memutuskan untuk membantu petani mengolah sampah dan dijadikan pupuk kompos. Ya, pupuk organik. Bekerja sama dengan beberapa rekannya, Kiko mengajak pihak desa di Ngering & Wonoboyo, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah memberikan penyadaran kepada para petani untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik.

Menurut dia, profesi petani itu semakin tidak diminati anak muda. Termasuk anak-anak para petani itu tidak ingin meneruskan profesi ayah mereka. Penyebabnya, karena padi yang dihasilkan semakin lama semakin sedikit. Tanah yang dipakai untuk bercocok tanam tidak subur karena terlalu banyak terkena pupuk kimia. Unsur hara yang diambil tanaman, lebih banyak daripada unsur hara yang diberikan ke tanah. “Tanah menjadi tidak subur lagi,’’ kata Kiko yang usianya masih 26 tahun tersebut.

Melihat realita seperti itu, dia bersama beberapa rekannya, mencoba untuk memilah sampah organik (yang tidak mengandung kertas, plastik, dan metal) dicampur dengan bakteri baik, dan menghasilkan pupuk organik yang mampu menaikkan produksi pertanian. ‘’Mereka harus sadar bahwa masa depan pertanian masih baik jika tepat dalam mengolah tanah dengan pupuk kompos ini,’’ kata Kiko bersemangat.

Lelaki yang selama 13 tahun hidup di luar negeri, dan baru setahun terakhir kembali ke tanah air tersebut, tidak malu kembali ke desa dan bergelut dengan sampah untuk menaikkan taraf hidup para petani. Bahkan sampah organik berupa kotoran sapi pun bisa diolah menjadi pupuk kompos organik yang sangat bermanfaat. Dia mengaku rela bergelut dengan tletong (kotoran sapi) agar bisa disulap menjadi pupuk kompos yang berguna untuk para petani.

‘’Hasil dari pemakaian pupuk yang kami produksi ini luar biasa. Bisa meningkatkan hasil padi menjadi lebih banyak. Usia tanam padi pun menjadi lebih singkat. Jika selama setahun hanya bisa dua kali tanam, dengan memakai pupuk produksi kami tersebut bisa tiga kali masa tanam,’’ kata pria yang mendalami bidang jurnalistik tersebut.

Peralatan pembuatan pupuk organik tersebut dia pinjamkan kepada para petani dan pihak kelurahan di Jogonalan Klaten. Sehingga mereka bisa memilah sampah dan mengolah menjadi pupuk kompos. Yang bisa diolah menjadi pupuk kompos tersebut adalah yang sifatnya organik, sehingga bakteri bisa mengolah sampah organik tersebut menjadi pupuk dengan waktu singkat.

Lelaki yang aktif di organisasi sosial Lions Club tersebut menegaskan bahwa pupuk organik yang dia ciptakan bersama rekan-rekannya tersebut sudah terbukti ampuh untuk meningkatkan produksi pertanian.

Di Desa Ngering & Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, dia menemukan fakta, sepuluh tahun yang lalu, lahan seluas 2.200 meter persegi bisa menghasilkan dua ton beras. ‘’Dengan menggunakan pupuk organik ini, kondisi tanah bisa dikembalikan seperti sedia kala,’’ kata Kiko. (*/iwa)

Pendidikan