RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung 8 bulan. Di Indonesia, kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi pada 2 Maret 2020. Hanya dalam tempo 8 hari, yakni pada 10 April 2020, penyebarannya telah meluas di 34 provinsi di Indonesia.

Dalam periode 8 bulan, lebih dari 440.000 masyarakat terpapar Covid-19 dan lebih dari 14.000 di antaranya meninggal. Dampak lain di masyarakat sangat terasa, di antaranya kehidupan sosial yang berubah, sehingga seluruh masyarakat mau tidak mau harus bisa beradaptasi.

Dari keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 372.266 atau 84,4 persen di antaranya telah dinyatakan sembuh atau terbebas dari Covid-19. Sementara itu, sebanyak 14.689 pasien atau 3,33 persen dari keseluruhan kasus positif telah meninggal dunia.

Ketua ASM 2021 dr Riris Andono Ahmad, MPH, PhD menjelaskan, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Itu sebagai upaya pengendalian terhadap penyebaran Covid-19. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dan diturunkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.9/2020 tentang Pedoman PSBB telah diterapkan.

Masyarakat diimbau untuk tidak bepergian, kecuali jika sangat diperlukan. Hal ini terutama berlaku di tempat-tempat umum yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti pusat perbelanjaan, transportasi publik, tempat peribadatan, juga fasilitas kesehatan.

”Fasilitas layanan kesehatan mengurangi pelayanan kesehatan pasien umum (pasien non Covid-19) untuk fokus dalam memberikan layanan pandemi Covid-19 serta untuk mengurangi risiko penularan di fasilitas kesehatan,” jelasnya, Selasa (9/5).

Situasi pandemi berdampak besar pada kehidupan masyarakat, terutama perekonomian. Riris mengungkapkan, pemerintah berusaha mencari alternatif dengan melakukan relaksasi PSBB secara bertahap untuk bisa menyelamatkan ekonomi. Alternatif ini dikenal sebagai masa adaptasi kebiasaan baru.

Masa adaptasi kebiasaan baru diartikan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal di tengah pandemi. Masa adaptasi kebiasaan baru ini dapat didefinisikan sebagai suatu tatanan baru yang memungkinkan masyarakat hidup “berdampingan” dengan Covid-19.

Menurutnya, pelayanan kesehatan sebagai sektor yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 juga harus bersiap untuk menghadapi adaptasi kebiasaan baru. Rumah sakit mulai memikirkan langkah-langkah yang harus diambil untuk tetap merawat pasien Covid-19 dan disaat bersamaan juga dapat memberikan pelayanan kepada pasien non Covid-19.

Kementerian Kesehatan sudah menyusun pedoman teknis sebagai acuan bagi pengelola rumah sakit dalam menyesuaikan kembali layanan RS pada masa adaptasi kebiasaan baru. Satgas Covid-19 sebagai tangan kanan Kementrian kesehatan dalam penanganan Covid-19, meluncurkan kampanye protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Pemerintah melakukan 3T atau tracing, testing dan treatment, dan masyarakat diminta untuk melakukan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

”Kemajuan teknologi telah berkontribusi meningkatkan kecepatan penemuan vaksin. Kemajuan itu pulalah yang turut membantu meningkatkan kecepatan proses pengembangan vaksin untuk mengatasi pandemic Covid-19,” jelasnya.

Dari narasi tersebut diatas, tentunya faktor kerja sama dan inovasi dari seluruh institusi serta masyarakat sangat diperlukan untuk penanganan Covid-19 di masa mendatang.

Oleh karenanya, FK-KMK UGM, RSUP Dr Sardjito, RSA UGM dan RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten menyelenggarakan kegiatan Annual Scientific Meeting (ASM), Sabtu (6/3). Acara ini digelar secara daring.

FK-KMK UGM Annual Scientific Meeting (ASM) 2021 diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) ke-75. Juga HUT RSUP Dr Sardjito ke-39, HUT RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro ke-93, dan HUT RSA UGM ke-9.

Salah satunya melalui kegiatan seminar yang mengusung tema “Koordinasi Upaya Pengendalian COVID-19 di Tingkat Nasional”. Seminar sehari ini terselenggara secara daring melalui kanal YouTube FKKMK UGM Official pada Sabtu (6/3).

”Kegiatan ini bertujuan untuk memahami koordinasi pelayanan dan akselerasi inovasi di tingkat pusat maupun daerah untuk mengembangkan strategi pengendalian Covid-19 secara kontinyu dan terus menerus,” ungkap Riris.

Riris mengungkapkan, kerja sama antar jejaring AHS berperan penting dalam memastikan peserta didik memperoleh skills dan paparan professional yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugasnya di masa depan.

“Kerja sama ini semakin penting dalam upaya menanggulangi dan mengendalikan pandemi Covid-19 di Indonesia, berbagai koordinasi layanan, penelitian, dan inovasi telah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas institusi maupun petugas kesehatan pada saat ini”, ungkapnya.

Dekan FK-KMK UGM Prof dr Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD, Sp.OG(K) mengatakan, ASM 2021 menitikberatkan pada koordinasi dan inovasi di masa pandemi untuk Indonesia Maju. “Pandemi Covid-19 sudah lebih dari satu tahun melanda negeri ini dengan kasus yang tak kunjung mereda,” ungkapnya saat membuka kegiatan.

Dia juga mengajak melalui kegiatan ASM 2021 untuk saling bahu-membahu menggiatkan inovasi dan mempererat koordinasi lintas sektoral untuk menghadapi kondisi pandemi yang tidak menentu ini. “Harapannya langkah ini dapat membantu penanganan covid-19 pada khususnya dan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pada umumnya,” papar Prof Ova.

Selain itu, juga memahami penguatan sumber daya manusia dan kerja sama antar institusi baik tingkat pusat maupun daerah dalam penanggulangan pandemic Covid-19. ”Rangkaian kegiatan ASM 2021 ini akan digelar sampai dengan bulan April 2021 dalam beragam bentuk kegiatan seperti workshop maupun seminar online,” tuturnya. (*/ila)

Pendidikan