RADAR JOGJA – Sebanyak 2.021 unit GeNose C19 akan didistribusikan kepada pengguna melalui lima perusahaan distributor kemarin (1/3). Dari total itu, sebagian besar alat GeNose yang sudah terpesan akan disalurkan kepada fasilitas kesehatan.

Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM Hargo Utomo menjelaskan, sasaran distribusi saat ini hanya melayani pengiriman melalui distributor. Mengingat saat ini GeNose tidak dijual untuk perorangan atau rumah tangga. Melainkan kepada institusi yang berkaitan dengan kesehatan, pelayanan publik, pemerintahan, serta edukasi. Seperti klinik, laboratorium, rumah sakit pemerintah dan swasta, korporasi atau perusahaan, universitas, yayasan, kementerian, pemerintah daerah hingga BUMN.

Daftar distributor, kata Hargo, dapat dilihat di situs genose.swayasaprakarsa.com. Formulir pemesanan GeNose C19 dapat diakses melalui link http://ugm.id/pemesananGeNoseC19.

Sebelumnya, target produksi alat GeNose ditetapkan hingga 3.000 unit. Namun, pendistribusian yang baru dilakukan sebanyak 2.021 unit akan tersebar ke Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Selanjutnya GeNose akan kembali diproduksi dan didistribusikan secara bertahap. “Sisa dari 3.000 unit tadi akan segera diproduksi dan dikirim setelah melakukan ricek kepada pembeli,”  ungkap Hargo usai pelepasan armada pengangkut GeNose di Science Techno Park, Kalasan.

Salah satu penemu GeNose C19, Dr dr Dian K Nurputra menambahkan, saat ini GeNose sudah diinspeksi kembali oleh Kementerian Kesehatan. Serta telah mendapatkan pengakuan cara uji klinis yang baik dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes.

Menurut Dian, sejak diakui oleh Kemenkes melalui pemberian izin penggunaan darurat, GeNose sudah layak beredar sejak akhir 2020. Artinya, GeNose sudah diizinkan oleh Kemenkes untuk beredar dengan semua akurasi yang ada. “Yang terbaru Kementerian Perhubungan juga telah menerbitkan aturan mengenai GeNose sebagai syarat perjalanan,” ungkap Dian.

Meski demikian, lanjut Dian, GeNose kembali diinspeksi oleh Kemenkes. Untuk memenuhi standar cara uji alat kesehatan yang baik seperti yang diamanatkan oleh Permenkes No 63 Tahun 2017. “Dan sudah lolos,” bebernya.

Tingkat akurasi GeNose, berkisar antara 93-95 persen. Bagi asien yang tidak bergejala, akurasi GeNose mencapai 93 persen. Saat ini, alat skrining virus SARS-CoV-2 itu juga telah resmi diakui oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) serta PT KAI.

Kini, ungkap Dian, pihaknya juga sedang dalam proses uji validasi eksternal yang dilakukan oleh Balitbangkes Kemenkes, Universitas Andalas, dan Universitas Indonesia. Sebelumnya, GeNose juga telah melalui fase-fase pengembangan dan penyempurnaan produk dengan lokasi uji coba di fasilitas pelayanan publik. Mulai dari stasiun kereta api, terminal bus, dan pondok pesantren.

Rektor UGM Panut Mulyono berharap dengan adanya GeNose C19 yang didistribusikan dapat mempercepat dan memperluas jangkauan skrining Covid-19. Meski alat baru, diharapkan tim dari GeNose bisa aktif dan tanggap saat nantinya ada yang merasa bingung ketika pengoperasian.

Selain itu diharapkan juga mampu menjawab secara cepat dan memberikan solusi saat alat ditemukan kendala atau kerusakan. “Dibutuhkan jejaring yang kuat dan jasa pelayanan yang baik agar kepercayaan masyarakat terjaga. Dengan GeNose diharapkan juga mampu memetakan penularan Covid-19 secara cepat, sehingga pemulihan ekonomi juga semakin cepat,” tutur Panut. (eno/laz)

Limbah Kantong Harus Dikelola dengan Baik

ALAT deteksi Covid-19 GeNose saat ini telah digunakan di enam stasiun kereta api dan beberapa rumah sakit. Di balik kemudahannya mendeteksi Covid-19 hanya dengan mengembuskan nafas ke dalam kantong plastik, limbah dari GeNose tetap harus diperhatikan.

Perwakilan Tim GeNose UGM Fitriana menjelaskan, limbah plastik bekas tes GeNose harus bisa dikelola dengan tepat. Baik untuk kantong yang menunjukkan hasil negatif maupun positif. Hal ini karena limbah kantong plastik GeNose masuk dalam limbah infeksius dan harus ditangani secara tepat. “Semua diberlakukan sama, baik negatif maupun positif. Dan itu kantongnya khusus,” jelas Fitriana.

Salah satu rumah sakit yang sudah menyediakan layanan GeNose adalah RSA UGM. Sanitarian RSA UGM Galih Santo Purnomo menjelaskan, saat ini RSA telah bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengelola limbah infeksius dari GeNose.

Usai digunakan, limbah kantong plastik akan dimasukkan ke dalam tempat sampah medis dengan lapisan plastik warna kuning. Lalu, secara berkala akan disimpan di TPS B3 RSA UGM. “Untuk pemusnahannya sendiri kita kerja sama dengan pihak ketiga pengolah langsung yaitu PT Wastec Internasional,” katanya.

Galih mengungkapkan, dalam satu hari ada sekitar 2-5 kilogram limbah kantong plastik dari test GeNose. Dengan kuota pasien per hari mencapai 50 pasien. Menurutnya, para petugas yang bekerja menangani limbah  itu juga telah dibekali dengan alat pelindung diri (APD).

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan menuturkan, di RSUP Dr Sardjito limbah kantong plastik dari hasil tes GeNose akan langsung ditangani di instalasi pengelolaan khusus limbah medis. Mengingat Sardjito telah memiliki unit instalasi sanitasi secara mandiri. “Untuk limbah B3 dikelola khusus dengan pihak pengolah limbah,” ungkapnya.

Hingga saat ini pengelolaan limbah kantong plastik GeNose tidak menemui permasalahan. Tergolong dalam katagori limbah infeksius, limbah kantong plastik sudah dikelola secara khusus infeksius. Mulai dari tempat sampah, pengangkutan dan sampai pengolahan secara infeksius.

Ketua Tim Pengembang GeNose Kuwat Triyana menuturkan, limbah medis ini tidak bisa hanya sekadar dibakar. Namun harus diolah terlebih dahulu ke pengelola khusus limbah medis. Sebelum instansi tertentu membeli alat GeNose, pihaknya sudah memberikan syarat khusus. Termasuk pengelolaan limbah yang sudah disepakati dan harus dipatuhi oleh pembeli. “Ini menjadi syarat. Standar limbah dengan paket. Pengolahan limbah medis l harus diolah,” ungkapnya. (eno/laz)

Pendidikan