RADAR JOGJA – Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS) Jogjakarta menggelar wisuda sarjana ke-22 pada Rabu (10/2).

Prosesi wisuda dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat sesuai anjuran Pemerintah. Sebanyak 58 wisudawan hadir pada perhelatan yang diselenggarakan di Auditorium Politeknik LPP Jogjakarta.

“Wisuda sarjana tahun ini merupakan yang istimewa, diawali tahap seminar online melalui zoom atau google meeting, proses ujian skripsi begitu juga,” kata Ketua STAIMS Jogjakarta Dr Azis S.Ag di sela acara.

Azis mengaku salut dengan kegigihan dan semangat para wisudawan untuk menyelesaikan program studi sarjana di kampus ini. “Ada 51 wisudawan atau 88% lulus dengan predikat cumlaude dan 7 wisudawan atau 12% dengan predikat sangat memuaskan. Kami berdoa semoga ilmu yang diraih bermanfaat dan berkah,” jelasnya.

Dia berpesan kepada para wisudawan untuk tidak berhenti menuntut ilmu. Sarjana merupakan tahap awal untuk memasuki tahap berikutnya.

“Diibaratkan S1 baru memiliki satu mata kail, S2 memiliki dua, sedangkan S3 memiliki tiga mata kail,” jelasnya.

Para wisudawan merupakan lulusan program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).

Pihaknya terus meningkatkan mutu lulusan dengan berinovasi dalam pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan sistem informasi, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta.

Salah satu perwakilan wisudawan Tri Wibawa menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada para dosen dan civitas akademika. Melalui tangan dingin para dosen STAIMS Jogjakarta pola pikir serta wawasan mahasiswa selama ini menjadi bertambah luas. Sangat menginspirasi.

“Kami mohon maaf atas ketidakdisiplinan kami dalam mengikuti proses perkuliahan selama ini,” ungkapnya.

Tri juga mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua yang telah mendoakan. Dirinya sadar segala yang diperoleh tidak terlepas dari kerja keras, kesabaran, dan kasih sayang dari kedua orangtua.

“Banyak harta yang telah direlakan hanya untuk melunasi dan menghidupi perkuliahan kami,” jelasnya.

Sementara itu, suasana duka menyelimuti prosesi penyematan kelulusan. Mahasiswa asal Cirebon bernama Kusnadi tidak dapat mengikuti wisuda. Mahasiswa angkatan 2014 itu menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari jelang wisuda. (asa/ila)

Pendidikan